Think Outside of the Box – Ethical Dilemma

ETHICAL DILEMMA, WHICH WOULD YOU DO??

think_outside_box_ethical_dilemma_

You are driving along in your car on a wild, stormy night, when you pass by a bus stop, and you see three people waiting for the bus:

1. An old lady who looks as if she is about to die.

2. An old friend who once saved your life.

3. The perfect partner you have been dreaming about.

Which one would you choose to offer a ride to, knowing that there could only be one passenger in your car?

Think and Think before you continue reading..... [Think Outside of the Box]

This is a moral/ethical dilemma that was once actually used as part of a job application.

>> You could pick up the old lady, because she is going to die, and thus you should save her first;

>> Or you could take the old friend because he once saved your life, and this would be the perfect chance to pay him back.

>> However, you may never be able to find your perfect mate again.

The candidate who was hired (out of 200 applicants) had no trouble coming up with his answer.

He simply answered: "I would give the car keys to my old friend and let him take the old lady to the hospital. I would stay behind and wait for the bus with the partner of my dreams."

Sometimes, we gain more if we are able to give up our stubborn thought limitations.

ethical_dilemma_think_outside_of_the_box

Never forget to
"Think Outside of the Box."

arrow_down3

Things We Can Learn From Kung Fu Panda

PSSI, Garuda Indonesia Airways dan Liga Primer Indonesia
liga_primer_indonesia

Jika semua berjalan dengan lancar dan mulus, maka tanggal 8 Januari 2011, satu liga baru akan digelar di Indonesia, yaitu Liga Primer Indonesia (LPI). Liga yang digagas oleh Arifin Panigoro ini, banyak mendapatkan kecaman dari para pengurus PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia). Mulai dari menyebutkan LPI ilegal sampai mengatakan LPI adalah banci. Malah menggunakan segala macam ancaman. C’mon PSSI, ini bukan era Orde Baru, dimana anda bisa menggunakan kekuasaan untuk mengancam sana sini. Saat ini era keterbukaan , era kompetisi. Yang saya lihat pengurus PSSI seperti kebakaran jenggot karena takut/khawatir dengan kompetisi.

Kenapa demikian?

Begini, kalau satu perusahaan sudah sedemikian lamanya menikmati lezatnya kue bernama ‘monopoli’ maka bisa jadi akan terlena. Dan jika satu saat muncul kompetitor, mereka pasti akan terusik, terganggu. Padahal kompetitor dimanapun, kapanpun dibutuhkan, sebagai sparring partner. Tinggal bagaimana menyikapinya. Betul? betul, betul betul….

Kita ambil contoh.

Pada saat saya masih kecil, pesawat terbang yang saya kenal hanyalah Garuda Indonesia Airways. Kalau boleh disebut, dulu itu Garuda Indonesia memonopoli jasa angkutan udara di Indonesia. Mau tau jeleknya monopoli ini? Kalau pesawatnya delay, entah itu satu jam, dua jam atau lebih, maka penumpang harus menerima dengan mengelus dada (bukan lapang dada). Nrimo tanpa boleh protes. Boro-boro dikasih makanan/snack penghibur. Ada pengumuman delay aja sudah mending. Bagi Garuda Indonesia (waktu itu): “memang kalau kami telat sekian jam, kalian mau terbang sama Gatotkoco?”. Penumpang tidak punya pilihan (option), maka mau tidak mau, harus menerima.

Lalu tibalah saatnya era open sky. Keterbukaan. Persaingan bebas. Perusahaan-perusahaan swasta diizinkan untuk menguji nyali nyemplung ke dunia bisnis penerbangan Indonesia. Kompetitor muncul, otomatis terciptalah kompetisi. Apakah pihak Garuda Indonesia mengecam (seperti layaknya PSSI) dengan mengatakan: woiii, Lion Air, woiii Batavia Air, woooiiii AirAsia, ….kalian ini ilegal, kalian ini banci???

Apakah demikian? Tidak. Sekali lagi TIDAK.

Pihak Garuda Indonesia lebih melihat dari sisi positipnya (apa karena di Garuda Indonesia banyak yang berpikir positip, sedangkan di PSSI tidak ya?). Ini saatnya kita bertanding. Kalau dulu seng ada lawan, sekarang kita harus ‘berlatih’, koreksi diri.  Dan lakukan analisa dasar, misal analisa SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunities and Threats). Apakah gampang? Tentu tidak. Perlahan tapi pasti, Garuda Indonesia berhasil memperbaiki citra dirinya. Bahkan beberapa kali mendapatkan Award, contohnya Airline Turnaround of the Year Award di tahun 2010. Juga dibuktikan saat ini, walaupun harga tiketnya (cukup) mahal, tapi karena dari sisi kualitas dinilai bagus, tetap saja banyak peminatnya.

Itu hanya salah satu contoh dari sikap positip Garuda Indonesia Airways dalam menghadapi kompetisi. Contoh lain, yang kurang lebih mirip, PERTAMINA.

Lalu kenapa PSSI tidak bisa atau tidak mau? Coba lihat, dari mulai berdiri di tahun 1930 sampai sekarang, saya nilai PSSI belum bisa dikelola secara profesional. Sumber pendanaan aja, masih mengandalkan APBD. Mau tau berapa besar dana APBD yang disedot sama PSSI? Saya kutip dari tulisan Yesayas Oktavianus: “Dengan asumsi, setiap klub ISL mendapat Rp 20 miliar dan klub Divisi Utama Rp 10 miliar, berarti tiap tahun mereka (PSSI) menghabiskan Rp 720 miliar.

Satu jumlah yang luar biasa besar. Dan harap dicatat, itu adalah uang rakyat. Kemana aja uang ini selama ini. Kalau kita bicara prestasi, halah…NOL besar. Kalau bicara sudah profesional, seharusnya tidak mengandalkan dana APBD. Gimana mau ngomong profesional, mengelola penjualanan tiket di Piala AFF 2010 lalu aja tidak mampu. Amburadul.

Sudahlah PSSI. Tirulah cara dan sikap Garuda Indonesia Airways. Segera lakukan analisa S.W.O.T tanpa S.E.W.O.T!! Jangan takut dengan kompetisi. Kompetisi yang sehat cenderung melahirkan produk yang baik dan bermutu. Biarkan saja Liga Primer Indonesia bergulir. Biarkan rakyat Indonesia yang menilai. Biarkan waktu yang bicara. Anda perbaiki saja citra anda, tanpa menjelek-jelekan LPI. Jangan gunakan senjata ancaman itu. Sudah tidak zaman dan tidak laku. Kami – rakyat Indonesia -  berhak menikmati pilihan (option) tontonan sepak bola yang bermutu, liga yang bermutu dan yang menghasilkan prestasi sepakbola tidak hanya di Indonesia, atau Asia tapi dunia.

<< Menyesal kalau tidak baca yang ini >>

TELANJANG di Google BODY Browser

Pekerjaan paling BERBAHAYA di dunia, siapa berani?

gambar: google.com

Payment from PayPal WishList

Masih ingat dengan PayPal WishList? Itu lho, salah satu program promosi dari PayPal dimana kita yang memiliki akun PayPal dan mengikuti program ini bisa mendapatkan uang a.k.a money dalam US$. Pada saat program ini diluncurkan, banyak yang meragukan apakah PayPal WishList ini scam atau tidak. Ternyata eh ternyata, mereka membayar. Walaupun saya hanya bisa mendapatkan US$19 (dari maksimum total US$100), tapi lumayan-lah. Ini sekaligus membuktikan bahwa PayPal WishList bukan scam. Berikut ini adalah bukti payment from Paypal WishList.

payment from paypal wishlist

Fenomena kebangkitan China – Sang Naga
naga3

CAFTA (China ASEAN FTA) sudah diberlakukan sejak 1 Januari 2010. Banyak pihak -  terutama pengusaha di Indonesia – yang mengkhawatirkan dampak buruk dari berlakunya CAFTA ini. Mereka mengkhawatirkan membanjirnya produk-produk murah dari China ke Indonesia akan mematikan usahanya karena tidak sanggup untuk berkompetisi. Bahkan banyak dari pengusaha akan membanting stir menjadi pedagang, yang berujung kepada tutupnya pabrik dan mengakibatkan PHK. China – Sang Naga  – telah bangun dari tidur panjangnya. Semburan api sang naga membuat ketar-ketir pengusaha di Indonesia. Sedemikian hebatnyakah China?

Coba kita baca apa yang disebutkan Kompas tanggal 11 Januari 2010. Di sana jelas tercantum judul : China kini menjadi nomor satu. Saya kutip sebagian isinya : “Bertahun-tahun Jerman menduduki tempat teratas sebagai negara pengekspor nomor satu di dunia. Siapa yang tidak kenal mobil mewah Mercedes, perlengkapan rumah sakit dan telekomunikasi Siemens, atau mesin-mesin canggih berteknologi tinggi lain buatan negara pimpinan Ibu Angela Merkel itu? Akan tetapi, pada penghujung 2009, mahkota itu direbut oleh China. China juga mengalahkan Amerika Serikat sebagai pasar mobil terbesar dunia pada tahun 2009 dan segera mengalahkan Jepang menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia”. Baca sekali lagi secara perlahan kalimat terakhir….segera mengalahkan Jepang menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia. Ck..ck..ck.

Pencapaian Sang Naga di atas bukan didapat secara instan, tapi perlu waktu dan kerja keras. Selama beberapa dasawarsa, ekonomi China bergerak lambat, terkucil dan terabaikan oleh seluruh dunia. Pada saat Mao berkuasa, maka banyak terjadi kelaparan negeri tirai bambu ini, terutama di pedesaan. Para petani kecil menjadi kurus kering. Tingkat kelaparan sedemikian parahnya sehingga para petani berburu kodok dan tikus untuk dimakan. Di beberapa keluarga yang sangat kelaparan mereka terpaksa menjalankan praktik yang disebut yi zi er shi : mereka menukar anak mereka dengan anak tetangga, kemudian membunuh dan menyantap bocah kurus itu, dengan kesadaran yang menjijikkan bahwa para tetangga melahap anak mereka. Mengerikan bukan?

Setelah Mao meninggal pada 1976, maka reformis ekonomi Den Xiaoping muncul sebagai pemimpin China. Den Xiaoping-lah yang banyak melakukan perubahan, melalui reformasi ekonomi yang mendorong masyarakat pedesaan untuk berani melakukan xiahai, atau “melompat ke dalam lautan bisnis.” Deng melakukan reformasinya dengan cara “menyeberangi sungai dengan merasakan batu-batunya, sebuah ungkapan China yang berarti melakukan selangkah demi selangkah. Di dalam usahanya untuk menemukan model pembangunan China, maka Deng Xiaoping banyak belajar dari Singapura dan bahkan mengunjungi negara Singa ini di November 1978. Perjalanan ini telah membuka mata Den dan menjadi titik balik bagi China – sang Naga.

Mulai tahun 1980-an China membangun tambang-tambang batu bara untuk memenuhi kebutuhan energi. Selama tahun  1990-an China berpacu meningkatkan produksi gas alam dan minyak. Selama periode 1990-2003 China membangun jaringan pembangkit listrik baru yang modern. Infrastruktur dibangun, pelabuhan-pelabuhan kargo dibangun, demikian juga jalan raya, rel-rel kereta api serta bandara-bandara modern. Ratusan zona ekonomi juga ikut dibangun. Upaya modernisasi terencana yang terpusat ini masih berlanjut sampai sekarang.

Tidak heran dengan usaha-usaha yang dijalankan diatas maka China bisa seperti sekarang ini. Usaha ini saya yakin dijalankan dengan kerja keras dan konsisten. Konsistensi ini diperlukan, dan Indonesia juga butuh konsistensi. Sudah sering kita lihat Pemerintah kita dan peraturannya tidak dijalankan secara konsisten. Istilah ganti Menteri ganti peraturan sudah sering kita dengar. Jika China – sang Naga – saja bisa melakukannya, kenapa kita tidak.

“Saya pergi ke sana (China) setiap tahun, dan saya selalu terkejut melihat kecepatannya,” (Lee Kuan Yew, mantan Perdana Menteri Singapura).

PS : bahan artikel ini saya ambil sebagian dari buku yang berjudul “The Elephant and the Dragon” karya Robyn Meredith, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit Quacana.

Gambar: google.com

Prita Mulyasari : BEBAS!
prita mulyasari bebas

Masih banyak kasus hukum di negri ini yang bernada ‘sumbang’ atau bisa dibilang tidak memihak kepada yang lemah. Seakan-akan yang memiliki uang dan kekuasaan dapat ‘membeli’ hukum atau bahkan berkata ‘akulah sang hukum’. Yang benar jadi salah, yang salah jadi benar. Dari beberapa kasus yang terjadi, maka kasus yang dialami oleh ibu Prita Mulyasari-lah yang cukup banyak menyedot perhatian orang. Kasus yang bermula dari e-mail pribadi (curhat) Prita Mulyasari mengenai ketidakpuasan akan service RS Omni International, melebar kemana-mana, karena dalam kasus ini Prita dikenakan Undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), tentang pencemaran nama baik.

Sempat mendekam dalam penjara, tapi berkat dukungan para blogger dan facebooker serta rakyat Indonesia, yang begitu mengecam ke-arogansi-an serta diterapkannya UU ITE dalam kasus ini, maka Prita dikeluarkan dari tahanan dan menjalani tahanan rumah. RS Omni tidak merasa puas dan bahkan mengajukan tuntutan denda sebesar Rp. 204 juta. Kembali rasa keadilan rakyat terusik. Arogansi dilawan dengan KOIN. Ya betul, kawan…koin. Jenis uang yang sudah dianggap antara ada dan tiada, dapat menjadi satu kekuatan. Koin untuk Prita. Koin demi koin dikumpulkan dari seluruh Indonesia. Dan hasilnya sungguh diluar dugaan. Jumlah koin yang terkumpul adalah Rp. 650.364.058 (detiknews.com). Luaarrrrrrrrrrr biasa. Tapi entah kenapa setelah koin-koin ini terkumpul, RS Omni International malah mencabut tuntutannya.

Dan hari Selasa tanggal 29 Desember 2009, Majelis hakim Pengadilan Negeri Tangerang memutuskan Prita Mulyasari (32) tidak terbukti secara sah melakukan pencemaran nama baik terhadap RS Omni International Alam Sutera Serpong Tangerang Selatan. Artinya : PRITA MULYASARI BEBAS!

prita_mulyasari

Masih banyak orang-orang yang mengalami seperti yang Prita telah alami. Ketidakadilan. Rakyat yang tak berpunya sering tak berdaya jika sudah berhadapan dengan hukum. Hukum dibengkokkan. Ingat kasus Nenek Minah? Ingat kasus pencurian semangka?

Mudah-mudahan Pemerintah mau merevisi UU ITE, mudah-mudahan Pemerintah mau membenahi hukum kita, sehingga bukan semboyan ‘membela yang bayar’ yang berlaku, tapi hendaknya hukum berlaku untuk siapa saja (equal rights before the law). Dan dewi keadilan masih mau menghampiri Prita-prita lainnya. Semoga.

Gambar : kompas.com

The Most Expensive Book in the World

Beberapa hari yang lalu, Pak Ikhwan Sopa meng-update status facebooknya. Di wall-nya dia mencantumkan kalimat seperti ini :

"Makin besar masalah yang Anda hadapi, makin besar peluang yang Anda miliki."  Matthias Schmelz - Penulis buku termahal di dunia, di Amazon bukunya (450 halaman) dijual seharga $995.

Yang menjadi perhatian saya adalah mengenai harga buku dari Matthias Schmelz ini, yang senilai US$995. Jika dikalikan dengan kurs katakanlah Rp. 10.000 maka buku ini bernilai mendekati Rp. 10.000.000,- (baca : sepuluh juta rupiah). Gubrakkksssss…! Saya langsung mengunjungi Amazon untuk melihat seperti apa sih buku yang disebut “The Most Expensive Book in the World ini. Disana dicantumkan judul bukunya adalah : “The Millionare Maker : A Complete Guide to Financial Freedom”. Screen shootnya sebagai berikut :

the most expensive book in the world

Walaupun disana tercantum tahunnya adalah tahun 2007, tapi sampai sekarang saya rasa belum ada buku yang bisa menandingi harga buku “The Millionare Maker : A Complete Guide to Financial Freedom” ini (koreksi saya jika salah).

Ini adalah satu review mengenai buku si Matthias Schmelz : “When I saw the price of The Millionaire Maker, I thought it was a joke. Then I was appalled. Then I read the book at a show in Geneva, and I was amazed. I quickly handed over my credit card to acquire my copy of this amazing book. The Millionaire Maker is like a doctoral course in wealth and fulfillment taught by some of the greatest minds in business, technology, finance, literature, the arts and engineering. Mr. Schmelz has melded all this great advice and priceless wisdom into a book that, while quite large and heavy, is astonishingly easy to read and understand. Yes, $995 is a hell of a lot to pay for a book. But there is no other book on earth like The Millionaire Maker. I cannot recommend it too highly” (oleh Joe P, Humboldt County, CA).

Yang penasaran atau mungkin ingin membelinya, silahkan ke Amazon untuk melihat-lihat seperti apa front cover, front flap, table of contents, first pages, dan lain-lain dari buku “The Millionare Maker : A Complete Guide to Financial Freedom” (The Most Expensive Book in the World). Apa dari teman-teman sudah ada yang membeli? Kalau sudah, saya mau pinjam..hehe.