Pada saat saya masih kecil, pesawat terbang yang saya kenal hanyalah Garuda Indonesia Airways. Kalau boleh disebut, dulu itu Garuda Indonesia memonopoli jasa angkutan udara di Indonesia. Mau tau jeleknya monopoli ini? Kalau pesawatnya delay, entah itu satu jam, dua jam atau lebih, maka penumpang harus menerima dengan mengelus dada (bukan lapang dada). Nrimo tanpa boleh protes. Boro-boro dikasih makanan/snack penghibur. Ada pengumuman delay aja sudah mending. Bagi Garuda Indonesia (waktu itu): “memang kalau kami telat sekian jam, kalian mau terbang sama Gatotkoco?”. Penumpang tidak punya pilihan (option), maka mau tidak mau, harus menerima.
Lalu tibalah saatnya era open sky. Keterbukaan. Persaingan bebas. Perusahaan-perusahaan swasta diizinkan untuk menguji nyali nyemplung ke dunia bisnis penerbangan Indonesia. Kompetitor muncul, otomatis terciptalah kompetisi. Apakah pihak Garuda Indonesia mengecam (seperti layaknya PSSI) dengan mengatakan: woiii, Lion Air, woiii Batavia Air, woooiiii AirAsia, ….kalian ini ilegal, kalian ini banci???
Apakah demikian? Tidak. Sekali lagi TIDAK.
Pihak Garuda Indonesia lebih melihat dari sisi positipnya (apa karena di Garuda Indonesia banyak yang berpikir positip, sedangkan di PSSI tidak ya?). Ini saatnya kita bertanding. Kalau dulu seng ada lawan, sekarang kita harus ‘berlatih’, koreksi diri. Dan lakukan analisa dasar, misal analisa SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunities and Threats). Apakah gampang? Tentu tidak. Perlahan tapi pasti, Garuda Indonesia berhasil memperbaiki citra dirinya. Bahkan beberapa kali mendapatkan Award, contohnya Airline Turnaround of the Year Award di tahun 2010. Juga dibuktikan saat ini, walaupun harga tiketnya (cukup) mahal, tapi karena dari sisi kualitas dinilai bagus, tetap saja banyak peminatnya.
Itu hanya salah satu contoh dari sikap positip Garuda Indonesia Airways dalam menghadapi kompetisi. Contoh lain, yang kurang lebih mirip, PERTAMINA.
Lalu kenapa PSSI tidak bisa atau tidak mau? Coba lihat, dari mulai berdiri di tahun 1930 sampai sekarang, saya nilai PSSI belum bisa dikelola secara profesional. Sumber pendanaan aja, masih mengandalkan APBD. Mau tau berapa besar dana APBD yang disedot sama PSSI? Saya kutip dari tulisan Yesayas Oktavianus: “Dengan asumsi, setiap klub ISL mendapat Rp 20 miliar dan klub Divisi Utama Rp 10 miliar, berarti tiap tahun mereka (PSSI) menghabiskan Rp 720 miliar.
Satu jumlah yang luar biasa besar. Dan harap dicatat, itu adalah uang rakyat. Kemana aja uang ini selama ini. Kalau kita bicara prestasi, halah…NOL besar. Kalau bicara sudah profesional, seharusnya tidak mengandalkan dana APBD. Gimana mau ngomong profesional, mengelola penjualanan tiket di Piala AFF 2010 lalu aja tidak mampu. Amburadul.
Sudahlah PSSI. Tirulah cara dan sikap Garuda Indonesia Airways. Segera lakukan analisa S.W.O.T tanpa S.E.W.O.T!! Jangan takut dengan kompetisi. Kompetisi yang sehat cenderung melahirkan produk yang baik dan bermutu. Biarkan saja Liga Primer Indonesia bergulir. Biarkan rakyat Indonesia yang menilai. Biarkan waktu yang bicara. Anda perbaiki saja citra anda, tanpa menjelek-jelekan LPI. Jangan gunakan senjata ancaman itu. Sudah tidak zaman dan tidak laku. Kami – rakyat Indonesia - berhak menikmati pilihan (option) tontonan sepak bola yang bermutu, liga yang bermutu dan yang menghasilkan prestasi sepakbola tidak hanya di Indonesia, atau Asia tapi dunia.
<< Menyesal kalau tidak baca yang ini >>
TELANJANG di Google BODY Browser
Pekerjaan paling BERBAHAYA di dunia, siapa berani?
gambar: google.com