Kopi Kok Tong - Warung Kopi Lokal di Medan. Kalau ditanya apa kenal sama Starbuck atau Coffee Bean atau yang produk-produk ngetop itu, so pasti banyak yang kenal dan bahkan mungkin udah pernah nongkrong di sana. Entah menikmati cita rasa kopinya atau cuman mau memastikan apa benar tidak ya harganya sekian puluh ribu per cangkir.
Tapi kalau ditanya apa kenal sama Kopi Kok Tong Medan? Pasti banyak yang menggelengkan kepalanya (tapi geleng2 disini bukan termasuk golongan yang ajeb...ajeb ya..).
Wajar aja kalau belum kenal sama Kopi Kok Tong Medan. Orang Medan aja masih banyak yang belum kenal sama kopi lokal ini. Tapi bagi warga Siantar (kota Pematang Siantar maksudnya) dijamin pasti kenal sama warung kopi ini, karena dari kota ini-lah si Kok Tong ini brojol.
Berdiri sekitar sejak Januari 1925 (mungkin pas berdiri ada janjian sama Nyonya Meneer ), dan baru dua tahun belakangan ini Kok Tong nyosor ke Medan, dengan mengambil tempat di dua plaza yaitu di Sun Plaza dan Medan Fair Plaza.
Menurut catatan Mpu Perkopian, Kok Tong ini awalnya dirintis sama yang namanya Lin Tee Kee. Karna sudah cape ngaduk-ngaduk kopi (warna kulit si engkoh ini aja jadi ikutan item), diteruskan ke anaknya, yang punya nama A Tap Seng eh, salah Lin Kok Tom.
Tempatnya di sekitar Jl. Wahidin dan Jl. Surabaya di Kota Siantar (bukan Jl. Surabaya di Jakarta yang jual barang-barang antikss itu). Karna si Lin Kok Tom ini sudah merasa tak kuat, dialihkanlah ke generasi ke tiga yaitu Djamin Halim dan Paimin.
Mungkin karna tidak mau dikatakan jago kandang, maka ditangan generasi ketiga inilah mereka melakukan ekspansi dan masuk ke kota Medan (Medan, here we come..).
Kopi Kok Tong Medan murni menggunakan kopi lokal (aih..cinta Indonesia) yaitu kopi robusta yang berasal dari perkebunan rakyat Kecamatan Raya Siantar (Simalungun). Rasa, aroma dan penampakan (penampakan atau penampilan ya?) kopi ini sangat khas. Hitam, pekat dan ada buih yang muncul di permukaan.
Mungkin faktor penyeduhan mempengaruhi cita rasa ya..Prosesnya - katanya - kayak gini : air dimasak hingga mendidih, trus itu kopi dimasukkan, lalu kopi disaring supaya kopi menempel di saringan, then ditarik-tarik seperti bikin teh tarik. But trust me...saya udah coba ikutin semua proses itu di rumah, tapi tetap aja rasanya beda. Kenapa ya?
Lanjut...
Beda dengan Kok Tong yang di Siantar, maka Kok Tong yang di Medan tampil dengan konsep yang lebih modern dengan interior yang nyaman. Ngga kalah set sama tempat ngopi dari yang luar negri. Cucok-lah untuk tempat nongkrong. Yang paling sering di order adalah Kopi Panas black O.
Sedikit cerita mengenai Kok Tong yang di Siantar.
Kalau saya pas ke kebon (kelapa sawit - red), pasti akan mampir ke warung kopi ini. Letaknya di pojok perempatan jalan. Pertama kali ngopi di sini , saya kaget. Kagetnya kenapa, karna pada saat kopi dihidangkan, belum lagi saya megang gelasnya, si pelayan udah minta uangnya...Haaa..? Kenapa ya? Apa karna tampang saya termasuk yang mencurigakan?
Cari-cari informasi, kenapa si mbak itu minta uang di muka (muka siapa ga tau), karna banyak dari para pemimum kopi di sini yang kadang-kadang (malah sering kali), lupa bayar, karna keasyikan ngobrol, pas selesai ngopi main tinggal aja (ah,kau...lupa bayar apa nembak..).
Selain kopi, di Kopi Tiam Kok Tong Plaza Medan Fair juga disediakan aneka jenis makanan ringan. Seperti pisang goreng, ubi goreng, sukun goreng dan aneka jenis makanan yang gurih, seperti cakwe, lemper ayam, cin toi, kali pok, chai pau, kuan chiang (4 jenis makanan ringan yang terakhir belum pernah saya coba).
Trus ada juga roti bakar, yang diolesi srikaya, produk Siantar. Harga segelas/secangkir kopinya juga tidak terlalu mahal, pokoknya lebih murah dari yang produk luar deh (bahkan yang di Siantar cuman tiga ribu rupiah). Yang di Medan Fair Plaza, Kok Tong buka dari jam 7 pagi. Jadi bisa sekalian sarapan.
baca juga:
Sambil ngopi, saya membayangkan, bisa ga ya warung-warung lokal Indonesia mendunia dan suatu saat, pas lagi jalan-jalan ke Amrik, Eropa, atau bahkan ke Kutub Utara, ada logo warung kopi produk Indonesia. Dan dengan bangga kita ngomong : eh, itu warung kopi dari negara gue lho..
Bisa-kah?