Benarkah Bangso Batak, keturunan Israel yang hilang?

Rumah Batak

Artikel ini saya peroleh dari salah satu milis, yang tidak menyebutkan sumbernya. Jika penulisnya membaca artikel ini saya mohon izin memuat di blog saya dan mohon informasinya agar saya dapat muat namanya. Terimakasih.

EKSPOSISI:
Bangsa Israel kuno terdiri dari 12 suku. Setelah raja Salomo wafat, negara Israel pecah menjadi dua bagian. Bagian Selatan terdiri dari dua suku yaitu Yehuda dan Benjamin yang kemudian dikenal dengan nama Yehuda, atau dikenal dengan nama Yahudi. Kerajaan Selatan ini disebut Yehudah, ibukotanya Yerusalem, dan daerahnya dinamai Yudea.
Bagian utara terdiri dari 10 suku, disebut sebagai Kerajaan Israel.

Dalam perjalanan sejarah, 10 suku tersebut kehilangan identitas  kesukuan mereka. Kerajaan utara Israel tidak lama bertahan sebagai sebuah negara dan hilang dari sejarah. Konon ketika penaklukan bangsa Assyria, banyak orang Kerajaan Utara Israel yang ditawan dan dibawa ke sebelah selatan laut Hitam sebagai budak. Sebagian lagi lari meninggalkan asalnya untuk menghindari perbudakan.

Sementara itu Kerajaan Yehudah tetap exist hingga kedatangan bangsa Romawi. Setelah pemusnahan Yerusalem pada tahun 70 oleh bala tentara Romawi yang dipimpin oleh jenderal Titus, orang-orang Yehudah pun banyak yang meninggalkan negerinya dan menetap di negara lain, terserak diseluruh dunia. Jauh sebelum itu, ketika masa pembuangan ke Babilon berakhir dan orang-orang Yehudah atau disebut Yahudi diijinkan kembali ke negerinya, dan sepuluh suku Israel dari Kerajaan utara memilih tidak pulang tetapi meneruskan petualangan kearah Timur. Demikian juga dengan mereka yang diperbudak di selatan laut Hitam, setelah masa perbudakan selesai, tidak diketahui kemana mereka pergi melanjutkan hidup.

Dengan demikian banyak diantara bangsa Israel kuno kemudian kehilangan identitas mereka sebagai orang Israel. Ada sekelompok penduduk di daerah Tiongkok barat, diterima sebagai puak Cina, tetapi secara umum profil wajah mereka agak berbeda dengan penduduk Cina pada umumnya. Perawakan mereka lebih besar, hidung agak mancung, namun berkulit kuning dan bermata sipit. Mereka menyembah Allah yang bernama Yahwe. Sangat mungkin mereka adalah keturunan sepuluh suku Israel yang hilang yang telah kawin campur dengan penduduk lokal sehingga kulit dan mata menjadi seperti penduduk asli.

Saya percaya banyak diantara para pembaca yang mengetahui bahwa di negeri Israel ada sekelompok kecil orang Israel yang berkulit hitam. Mereka adalah suku Falasha, yang sebelum berimigrasi ke Israel hidup di Etiopia selama ratusan generasi. Fisik mereka persis seperti Negro dengan segala spesifikasinya yaitu kulit hitam legam, bibir tebal, rambut keriting, dll. Mereka mengklaim diri mereka sebagai keturunan Israel atau disebut Beta Israel, dan dengan bukti-bukti yang dimiliki, mereka mampu memenuhi seluruh kriteria yang dituntut oleh Pemerintah Israel yang merupakan syarat mutlak supaya diakui sebagai Israel perantauan. Setelah memperoleh pengakuan sebagai keturunan Israel, sebagian dari mereka kembali ke Tanah Perjanjian sekitar 15 tahun lalu dengan transportasi yang disediakan oleh Pemerintah Israel. Itulah sebabnya mengapa ada Israel hitam. Mereka seperti orang Negro karena intermarriage dengan perempuan-perempuan lokal sejak kakek moyang mereka pergi ke Ethiopia. Kita tahu bahwa bahwa Ethiopia adalah salah satu negara yang penduduknya mayoritas Kristen yang paling tua didunia. Ingat sida-sida yang dibaptis oleh Filipus dalam Kisah 8:26-40. Bahkan sebelum era Kekristenan pun sudah ada penganut Yudaisme disana.Walaupun banyak yang kembali, sebahagian lagi tetap memilih menetap di negeri itu, dan merekalah yang menjaga dan memelihara Tabut Perjanjian yang konon ada disana.

Apakah ada diantara para pembaca yang pernah mendengar selentingan bahwa etnik Bangso Batak Toba, adalah juga keturunan bangsa Israel kuno yang hilang? Mungkin saja tidak, karena orang-orang Batak Toba sendiri banyak yang tidak mengetahuinya, kecuali segelintir yang memberikan perhatian terhadap hal ini.

Menurut kamus umum bahasa Indonesia, Batak mempunyai arti (sastra), adalah petualang, pengembara, sedang membatak berarti berpetualang, pergi mengembara. Walaupun demikian orang Batak dikenali dengan sikap dan tindakannya yang khas, yaitu terbuka, keras dan apa-adanya. Hosea 19:17: Allahku akan membuang mereka (ISRAEL YANG MURTAD), sebab mereka tidak mendengar Dia, maka mereka akan MENGEMBARA diantara bangsa-bangsa.

Mengapa di Sumatera, karena Sumatera adalah salah satu pulau di Hindia yang berdekatan dengan India. Sumatera juga merupakan salah satu pulau di Lautan Samudera Hindia. Bandingkan Yesaya 11:11: Pada waktu Tuhan akan mengangkut pula tangaNya untuk menebus sisa-sisa umatNya (Bangsa ISRAEL YANG MURTAD) yang tertinggal di Asyur, dan di Mesir, di Patros, di Ethiopia, dan di Elam, di Sinear, di Hamat dan di Pulau-pulau di Laut.

Seperti yang diungkapkan oleh seorang anthropolog dan juga pendeta dari Belanda, profesor Van Berben, dan diperkuat oleh prof Ihromi, guru besar di UI (Universitas In 782 donesia), bahwa tradisi etnik Tapanuli (Batak Toba) sangat mirip dengan tradisi bangsa Israel kuno. Pendapat itu didasarkan atas alasan yang kuat setelah membandingkan tradisi orang Tapanuli dengan catatan-catatan tradisi Israel dalam Alkitab yang terdapat pada sebahagian besar kitab Perjanjian Lama, dan juga dengan catatan-catatan sejarah budaya lainnya diluar Alkitab.

Beberapa peneliti dari etnis Tapanuli juga yakin bahwa Batak adalah keturunan Israel yang sudah lama terpisah dari induk bangsanya, tapi karena intermarriage dengan penduduk lokal ditempat mana mereka bermukim membuat orang Batak secara fisik menjadi seperti orang Melayu.

Seorang Batak Toba, yang sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Israel dan menjadi warga negara, berusaha mengumpulkan data-data untuk pembuktian. Setelah merasa sudah cukup, dia mengajukannya ke pemerintah Israel yang waktu itu masih dipimpin oleh PM Yitzak Rabin. Tetapi tenyata data tersebut belum bisa memenuhi seluruh kriteria. Pemerintah Israel kemudian meminta agar kekurangannya dicari hingga dapat mencapai 100 persen supaya pengakuan atas etnis Batak sebagai orang Israel diperantauan dapat diberi. Konon kekurangan itu terutama terletak pada silsilah yang banyak missing links-nya, dan menelusuri silsilah itu agar sempurna sama sulitnya dengan menyelam ke perut bumi.  Peneliti berharap suatu waktu pada masa depan, Pemerintah Israel bisa saja mengubah kriterianya dengan menjadi lebih lunak dan etnik Batak diterima sebagai bahagian yang terpisah dari mereka.

Setelah mendengar selentingan itu, saya benar-benar menaruh minat untuk menyelidiki sejauh mana budaya Bangso Batak Toba dapat memberi bukti similaritasnya dengan tradisi Israel kuno. Alkitab adalah buku yang prominent dan sangat layak serta absah sebagai kitab pedoman untuk mencari data budaya Israel kuno yang menyatu dengan unsur sejarah dan spiritual.

Beberapa diantara kesamaan tradisi Batak Toba dengan tradisi Israel kuno adalah sebagai berikut:

1). Pemeliharaan silsilah (Tarombo dan Marga)
Semua orang Tapanuli, terutama laki-laki, dituntut harus mengetahui garis silsilahnya. Demikian pentingnya silsilah, sehingga siapa yang tidak mengetahui garis keturunan kakek moyangnya hingga pada dirinya dianggap na lilu - tidak tahu asal-usul - yang merupakan cacat kepribadian yang besar.
Bangsa Israel kuno juga memandang silsilah sebagai sesuatu yang sangat penting. Alkitab, sejak Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru sangat banyak memuat silsilah, terutama silsilah dari mereka yang menjadi figur penting, termasuk silsilah Yesus Kristus yang ditelusuri dari pihak bapak(angkat) Nya Yusuf, yang keturunan Daud dan pihak ibuNya (Maria).
Catatan:
MARGA adalah kelompok kekerabatan menurut garis keturunan ayah (patrilineal) .Sistem kekerabatan patrilineal menentukan garis keturunan selalu dihubungkan dengan anak laki laki. Seorang ayah merasa hidupnya lengkap jika ia telah memiliki anak laki-laki yang meneruskan marganya. Sesama satu marga dilarang saling mengawini, dan sesama marga disebut dalam Dalihan Na Tolu disebut Dongan Tubu.
Menurut buku "Leluhur Marga Marga Batak", jumlah seluruh Marga Batak sebanyak 416, termasuk marga suku Nias.
Catatan: Marga dalam kamus Inggris Hassan Shadily dan John Echols adalah CLAN, yakni Suku, Marga, dan KAUM. Dalam arti yang lain, Marga bias berarti Warga, dari bahasa India (Sansekerta, kemungkinannya) . Jadi, kalau ada orang Batak bermarga Tampubolon, berarti dia berasal dari KAUM TAMPUBOLON. Bandingkan dengan KAUM LEWI, KAUM YEHUDAH, KAUM SIMEON dan lain-lain.
TAROMBO adalah silsilah, asal-usul menurut garis keturunan ayah. Dengan tarombo seorang Batak mengetahui posisinya dalam marga. Bila orang Batak berkenalan pertama kali, biasanya mereka saling tanya Marga dan Tarombo. Hal tersebut dilakukan untuk saling mengetahui apakah mereka saling "mardongan sabutuha" (semarga) dengan panggilan "ampara" atau "marhula-hula" dengan panggilan "lae/tulang" . Dengan tarombo, seseorang mengetahui apakah ia harus memanggil "Namboru" (adik perempuan ayah/bibi), "Amangboru/Makela" ,(suami dari adik ayah/Om), "Bapatua/Amanganggi/ Amanguda" (abang/adik ayah), "Ito/boto" (kakak/adik), PARIBAN atau BORU TULANG (putri dari saudara laki laki ibu) yang dapat kita jadikan istri, dst.

2). Perkawinan yang ber-pariban
Ada perkawinan antar sepupu yang diijinkan oleh masyarakat Batak, tapi tidak sembarang hubungan sepupu. Hubungan sepupu yang diijinkan untuk suami-istri hanya satu bentuk, disebut marpariban. Cukup report menerangkan hal ini dalam bahasa Indonesia karena bahasa ini tidak cukup kaya mengakomodasi sebutan hubungan perkerabatan dalam bahasa Batak. Yang menjadi pariban bagi laki-laki ialah boru ni tulang atau anak perempuan dari saudara laki-laki ibu. Sedangkan yang menjadi pariban bagi seorang gadis ialah anak ni namboru atau anak laki-laki dari saudara perempuan bapa.
Hanya hubungan sepupu yang seperti itu yang boleh menjadi suami-isteri. Karena suku Batak penganut patriarch yang murni, ini adalah perkawinan ulang dari kedua belah pihak yang sebelumnya sudah
terjalin dengan perkawinan.
Mari kita bandingkan dengan Alkitab. Pada kitab Kejadian, Yakub menikah dengan paribannya, anak perempuan Laban yaitu Lea dan Rahel. Laban adalah tulang dari Yakub. (Saudara laki-laki dari Ribka, ibu dari Yakub). Didunia ini sepanjang yang diketahui hanya orang Israel kuno dan orang Batak yang sekarang memegang tradisi hubungan perkawinan seperti itu.

3). Pola alam semesta
Orang Batak membagi tiga besar pola alam semesta, yaitu banua ginjang (alam sorgawi), banua tonga (alam dimensi kita), dan banua toru (alam maut). Bangsa Israel kuno juga membagi alam dengan pola yang sama.

4). Kredibilitas
Sebelum terkontaminasi dengan racun-racun pikiran jaman modern, setiap orang Batak, terutama orang tua, cukup menitipkan sebuah tempat sirih (salapa atau gajut), ataupun sehelai ulos, sebatang tongkat, atau apa yang ada pada dirinya sebagai surat jaminan hutang pada pihak yang mempiutangkan, ataupun jaminan janji pada orang yang diberi janji. Walaupun nilai ekonomis barang jaminan bisa saja sangat rendah tetapi barang tsb adalah manifestasi dari martabat penitip, dan harus menebusnya suatu hari dengan merelealisasikan pembayaran hutang ataupun janjinya. Budaya Israel kuno juga demikian. Lihat saja Yehuda yang menitipkan tongkat kepada Tamar sebagai jaminan janji (Kej. 38).

5). Hierarki dalam pertalian semarga
Dalam budaya Batak, jika seorang perempuan menjadi janda, maka laki- laki yang paling pantas untuk menikahinya ialah dari garis keturunan terdekat dari mendiang suaminya. Ini dimaksudkan agar keturunan perempuan tsb dari suami yang pertama tetap linear dengan garis keturunan dari suami yang kedua. Misalnya, seorang janda dari Simanjuntak sepatutnya menikah lagi adik laki -laki mendiang (bandingkan dengan Rut 1:11).
Jika tidak ada adik laki-laki kandung, sebaiknya menikah dengan saudara sepupu pertama dari mendiang yang dalam garis silsilah tergolong adik. Jika tidak ada sepupu pertama, dicari lagi sepupu kedua. Demikian seterusnya urut-urutannya. Hal semacam ini diringkaskan dalam ungkapan orang Batak : "Mardakka do salohot, marnata do na sumolhot. Marbona do sakkalan, marnampuna do ugasan".
Dalam tradisi Israel kuno, kita dapat membaca kisah janda Rut dan Boas. Boas masih satu marga dengan mendiang suami Rut, Kilyon. Boas ingin menikahi Rut, tapi ditinjau dari kedekatannya menurut garis
silsilah, Boas bukan pihak yang paling berhak. Oleh sebab itu dia mengumpulkan semua kerabat yang paling dekat dari mendiang suami Rut, dan mengutarakan maksudnya. Dia akan mengurungkan niatnya jika ada salah satu diantara mereka yang mau menggunakan hak adat-nya, mulai dari pihak yang paling dekat hubungan keluarganya hingga yang paling jauh sebelum tiba pada urutan Boas sendiri. Ya, mardakka do salohot, marnata do na sumolhot. (Baca kitab Rut).

6). Vulgarisme
Setiap orang dapat marah. Tetapi caci maki dalam kemarahan berbeda- beda pada tiap-tiap etnik. Orang Amerika terkenal dengan serapah: son of a bitch, bastard, idiot, dll yang tidak patut disebut disini.  Suku-suku di Indonesia ini umumnya mengeluarkan makian dengan serapah : anjing, babi, sapi, kurang ajar, dll. Pada suku Batak makian seperti itu juga ada, tetapi ada satu yang spesifik. Dalam sumpah serapahnya seorang Batak tak jarang memungut sehelai daun, atau ranting kecil, atau apa saja yang dapat diremuk dengan mudah. Maka sambil merobek daun atau mematahkan ranting yang dipungut/dicabik dari pohon dia mengeluarkan sumpah serapahnya:, , Sai diripashon Debata ma au songon on molo so hudege, hubasbas, huripashon ho annon !!!". Terjemahannya kira-kira begini:,,Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku kalau kamu tidak kuinjak, kulibas, kuhabisi !!!".
Robeknya daun atau patahnya ranting dimaksudkan sebagai simbol kehancuran seterunya. Orang-orang Israel kuno juga sangat terbiasa dengan sumpah serapah yang melibatkan Tuhan didalamnya. Vulgarisme
seperti ini terdapat banyak dalam kitab Perjanjian Lama, diantaranya serapah Daud pada Nabal. (1 Sam. 25, perhatikan ayat 22 yang persis sama dengan sumpah serapah orang Batak).

7). Nuh dan bukit Ararat
Ada beberapa etnik didunia ini yang mempunyai kisah banjir besar yang mirip dengan air bah dijaman Nuh. Tiap etnik berbeda alur ceritanya tetapi polanya serupa. Etnik Tapanuli juga punya kisah tentang air bah, tentu saja formatnya berbeda dengan kisah Alkitab. Apabila orang-orang yang sudah uzur ditanya tentang asal-usul suku Batak, mereka akan menceritakan mitos turun temurun yang mengisahkan kakek moyang orang Batak diyakini mapultak sian bulu di puncak bukit Pusuk Buhit.
Pusuk Buhit adalah sebuah gunung tunggal yang tertinggi di Tapanuli Utara, dipinggiran danau Toba. Pusuk Buhit sendiri artinya adalah puncak gunung. Pusuk Buhit tidak ditumbuhi pohon, jelasnya tidak ada bambu disana. Yang ada hanya tumbuhan perdu, ilalang, dan rumput gunung. Bambu dari mana kakek moyang keluar menurut nalar mendarat di puncak gunung itu dan mereka keluar dari dalamnya setelah bambunya meledak hancur. Mengapa ada bambu pada puncak Pusuk Buhit yang tandus dan terjal? Tentu saja karena genangan air yang mengapungkannya, yang tak lain adalah banjir besar.
Dapat dipahami mengapa jalan cerita menjadi seperti itu, karena setelah ribuan tahun terpisah dari induk bangsanya, narasi jadi berbeda. Bahtera Nuh berubah menjadi sebentuk perahu bambu berbentuk pipa yang kedua ujungnya ditutup, dan Bukit Ararat berubah menjadi Pusuk Buhit.

8). Mangokal Holi atau Eksumasi (Pemindahan tulang belulang)
Jika Pemerintah mengubah fungsi lahan pekuburan, wajar jika tulang-belulang para almarhum/ah dipindahkan oleh pihak keluarga yang terkait. Alasan ini sangat praktis. Bagi orang Tapanuli, penggalian tulang belulang (eksumasi) dari kerabat yang masih satu dalam garis silsilah dan dikuburkan didaerah lain adalah praktek yang sangat umum hingga sekarang. Sering alasannya hanya untuk kepuasan batin belaka walaupun biayanya sangat mahal karena termasuk dalam kategori perhelatan besar.
Pada bangsa Israel kuno hal semacam adalah kebiasaan umum. Sejarah sekuler menuturkan bahwa tulang belulang Yusuf dibawa dari Mesir ketika bangsa ini keluar dari sana. Juga dalam kitab lain dalam Perjanjian Lama, sekelompok masyarakat berniat memindahkan tulang belulang dari satu pekuburan (walaupun kemudian dihalangi oleh seorang nabi).

9). Peratap/Ratapan
Adalah wajar bagi jika satu keluarga menangis disekeliling anggota keluarga / kerabat yang meninggal dan terbujur kaku. Mereka menangisi si mati, dan seseorang meratapinya. Meratap berbeda dengan menangis. Meratap dalam bahasa Tapanuli disebut mangandung. Mangandung ialah menangis sambil melantunkan bait-bait syair kematian dan syair kesedihan hati. Karena sepenuhnya terikat dengan komponen syair-sayir maka mangandung ad 676 alah satu bentuk seni yang menuntut keahlian.
Untuk memperoleh kepiawaian harus belajar. Bahasa yang digunakan sangat klasik, bukan bahasa sehari-hari. Setiap orang-tua yang pintar mangandung akan mendapat pujian dan sering diharapkan kehadirannya pada setiap ada kematian. Di desa-desa, terutama di daerah leluhur - Tapanuli - tidak mengherankan kalau seseorang orang yang tidak ada hubungan keluarga dengan orang yang meninggal, bahkan tidak dikenal oleh masyarakat setempat, namun turut mangandung disisi mayat. Masyarakat mendukung hal seperti itu. Kata-kata yang dilantukan dalam irama tangisan sangat menyentuh kalbu. Tak jarang pihak keluarga dari si mati memberi pasinapuran (ang pao) kalau si peratap tersebut pintar, sekedar menunjukkan rasa terima kasih. Peratap-peratap dari luar ini sebenarnya tidak menangisi kepergian si mati yang tidak dikenalnya itu. Alasannya untuk turut meratap adalah semata-mata mengeluarkan kesedihan akibat kematian keluarga dekatnya sendiri pada waktu yang lalu, dan juga yang lebih spesifik yaitu mengekspresikan seni mangandung itu.
Ini sangat jelas dari ungkapan pertama sebelum melanjutkan andung-andungnya :,,Da disungguli ho ma sidangolonhi tu sibokka nahinan" Sibokka nahinan adalah anggota keluarga sipangandung yang sudah meninggal sebelumnya. Selanjutnya dia akan lebih banyak berkisah tentang mendiang familinya itu.
Bagaimana dengan bangsa Israel? Dari sejarah diketahui bahwa ketika Yusuf (perdana menteri Mesir) meninggal, sanak keluarganya membayar para peratap untuk mangandung. Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berkali-kali mencatat kata -kata ratapan, meratap, peratap. Kitab Ratapan yang ditulis oleh raja Salomo, dalam praktek Israel kuno adalah syair-syair yang dilantunkan sambil mangandung, kendati bukan pada acara kematian.

10). Hierarki pada tubuh
Dalam budaya Batak, kepala adalah anggota tubuh yang paling tinggi martabatnya. Menyentuh kepala seseorang dengan tidak disertai permintaan maaf yang sungguh-sungguh, bisa berakibat parah.
Sebaliknya anggota tubuh yang paling rendah derajatnya ialah telapak kaki. Adalah penghinaan besar jika seseorang berkata kepada seseorang lain:,,Ditoru ni palak ni pathon do ho = Kau ada dibawah telapak kakiku ini", sambil mengangkat kaki memperlihatkan telapak kakinya pada seteru. Penghinaan seperti ini hanya dilontarkan oleh seseorang yang amarahnya sudah memuncak dan sudah siap berkelahi.
Pada zaman dulu, dalam setiap pertemuan, telapak kaki selalu diusahakan tidak nampak ketika duduk bersila. Pada bangsa-bangsa Semitik tertentu di Timur Tengah, tradisi semacam ini masih tetap dijaga hingga sekarang karena memperlihatkan telapak kaki pada orang lain adalah pelanggaran etika yang berat, karena telapak kaki tetap dianggap anggota tubuh yang paling hina derajatnya.

11). Tangan kanan dan sisi kanan
Dalam budaya Tapanuli, sisi kanan dan tangan kanan berbeda tingkat kehormatannya dengan sisi kiri dan tangan kiri. Jangan sekali-kali berinteraksi dengan orang lain melalui tangan kiri jika tidak karena terpaksa. Itupun harus disertai ucapan maaf. Dalam Alkitab banyak tercatat aktivitas sisi `kanan' yang melambangkan penghormatan atau kehormatan.
Yusuf sang perdana menteri Mesir memprotes ayahnya Yakub yang menyilangkan tangannya ketika memberkati Manasye dan Efraim (baca Kejadian 48). Rasul Paulus dalam salah satu suratnya menyiratkan
hierarki anggota tubuh ini. Juga baca Pengkhotbah 10:2, Mzm 16:8, Mat 25:33, 26:64 Mrk 14:62, Kis 7:55-56, 1Pet 3:22, dll.

12). Anak sulung
Dalam hierarki keluarga, posisi tertinggi diantara seluruh keturunan bapak/ibu ialah anak sulung. Ia selalu dikedepankan dalam memecahkan berbagai masalah, juga sebagai panutan bagi semua adik-adiknya. Jika ayah (sudah) meninggal, maka anak sulung yang sudah dewasa akan mengganti posisi sang ayah dalam hal tanggung jawab terhadap seluruh anggota keluarga seperti yang diungkapkan dalam umpasa : Pitu batu martindi-tindi, alai sada do sitaon na dokdok. Sitaon na dokdok itu adalah si anak sulung. Tanggung jawab itulah yang membuat dia besar, memberi karisma dan wibawa. Karisma dan wibawa, itulah profil yang melekat pada anak sulung.
Alkitab ditulis dengan bahasa manusia, bangsa Israel kuno. Deskripsi tentang anak sulung pada bangsa ini sama seperti yang ada pada suku Batak yang sekarang, sehingga the term of the firstborn (istilah anak sulung) banyak terdapat dalam kitab tersebut. (baca Kel 4:22, 34:20, 13:12 dan 15, Im 27:26, Bil 3:13, 8:17, Mzm 89:28, Yer 31:9, Hos 9:20, Rom 8:23, Luk 2:27, 11:16, 1Kor 15:20 dan 23, Kol 1:15 dan 18, Ibr 1:6, Yak 1:18, dll)

13). Gender
Hingga sekarang posisi perempuan dalam hubungan dengan pencatatan silsilah selamanya tidak disertakan karena perempuan dianggap milik orang lain, menjadi paniaran ni marga yang berbeda. Hal yang sama terjadi pada bangsa Israel kuno ; bangsa ini tidak memasukkan anak perempuan dalam silsilah keluarga. Ada banyak silsilah dalam Alkitab, tetapi nama perempuan tidak terdapat didalamnya kecuali jika muncul sebagai yang sangat penting seperti Rut dan Maria (ibu Yesus). Kalaupun nama Dina disebut juga dalam Alkitab, itu bukan karena posisinya yang penting tetapi hanya sebagai pelengkap nama-nama keturunan Yakub yang kemudian menurunkan seluruh bangsa Israel. Dalam Tradisi Israel, anak perempuan tidak dihitung sebagai bangsa, tetapi anak laki-laki, red.

14). Kemenyan BATAK TOBA
Ada cerita yang sangat dipercaya oleh masyarakat Tapanuli, Sumatera Utara. Salah satu persembahan yang dibawa tiga majuz atau cendekiawan dari timur untuk bayi Yesus yang baru dilahirkan di Betlehem itu berasal dari Tanah Tapanuli. Persembahan itu berupa kemenyan, mendampingi dua persembahan lainnya, emas dan mur. Lewat cerita turun-temurun, masyarakat Tapanuli percaya kemenyan itu dibawa dari Pelabuhan Barus, yang dulu pernah menjadi pelabuhan besar, menuju Timur Tengah, hingga ke Betlehem. Cerita itu semakin bergulir mengingat sebagian besar penduduk Tapanuli beragama Kristen dan Katolik yang erat dengan cerita kelahiran Yesus Kristus. Kebenarannya memang perlu diteliti, tetapi setidaknya dari cerita itu bisa terlihat bahwa sampai sekarang pun getah harum bernama kemenyan, yang dalam bahasa Batak disebut haminjon, itu begitu erat dengan kehidupan orang Tapanuli. Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumatera Utara yang juga mantan Bupati Tapanuli Utara RE Nainggolan menjelaskan, kemenyan pernah sangat menyejahterakan masyarakat Tapanuli. Dan, getah harum itu ikut pula membesarkan namanya. "Nenek saya pedagang kemenyan," tuturnya. Ia tahu persis, pada tahun 1936 neneknya sudah mempunyai mobil untuk mengangkut kemenyan dari Tapanuli ke Pelabuhan Sibolga. Saat itu harga satu kilogram kemenyan sama dengan satu gram emas. Standar itu dipakai terus oleh petani dan pengepul di Tapanuli: Satu kilogram kemenyan sama dengan satu gram emas. Satu kilogram kemenyan juga setara satu kaleng (16 kilogram) beras. Selain cerita tentang persembahan dari timur untuk Nabi Isa itu, tak banyak orang tahu sejarah kemenyan di Tapanuli.
Kebanyakan warga menyebutkannya sebagai tanaman ajaib yang sudah ada ratusan tahun dan menghidupi masyarakat Tapanuli.

15). Pemberian Nama Bayi yang Lahir Tujuh Hari
Di dalam tradisi Parmalim - Agama Leluhur Batak Kuno, setiap anak bayi yang lahir selama tujuh hari harus di bawa ke Pancur untuk Permandian dan sekaligus pemberian nama. Permandian bayi yang sudah tujuh hari itu diserahkan ke Imam Parmalim. Setelah itu diberi nama dengan diadakannya Pesta Martutu Aek. Memang tidak ada sunat, tetapi beberapa suku Israel seperti Bene Menashe di India dan Suku Chiang Min pun melakukan hal yang sama. Karena apa? Karena mereka sudah melalui generasi ke generasi, asimilasi, masuknya unsur-unsur lokal dan sebagainya, seperti nama-nama dewa-dewi sesembahan lokal dimana mereka tinggal. Seperti itulah, tetapi identitas keaslian mereka sebagai keturunan Israel masih kelihatan. Seperti budaya, adat, Agama -Kepercayaan Monotheisme (meskipun masuknya paham lokal setempat), dan beberapa kebiasaan yang berbeda dengan suku - suku yang lainnya.

16). Monoteisme Hamalimon/Parmalim/Ugamo Malim
Hamalimon/Parmalim/Ugamo Malim, Agama Leluhur Bangso Batak Toba Parmalim, kaum minoritas yang tegar mempertahankan nilai leluhur batak. Kata Malim berasal dari bahasa Arab yang terdapat di kitab-kitab suci; yang berarti suci dan saleh dari asal kata Muallim.
Dalam bahasa Arab Muallim merujuk kepada istilah orang suci yang menjadi pembimbing dan sokoguru. Parmalim diistilah Batak berkembang ke dalam pengertian; orang-orang saleh berpakaian sorban putih.
Parmalim merupakan agama monotheis asli Bangso Batak Toba. Parmalim sudah ada sejak 497 Masehi atau 1450 tahun Batak.  TUHAN menurut Hamalimon/Parmalim/Ugamo Malim menyebut Tuhan adalah Mulajadi na Bolon (Awal Mula Yang Besar, red). Mulajadi na Bolon adalah Tuhan Yang Maha Esa yang tidak bermula dan tidak berujung. Bahwa Mulajadi na Bolon atau Tuhan itu wujud atau ada. Tetapi tidak dapat dilihat. Dia tidak bermula dan tidak mempunyai ujung. Dia adalah mutlak absolut, Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Agung dan tidak dapat dibandingkan. Dia dekat dan jauh dari alam ciptaannya. Dia adalah kuasa yang menghukum dan kuasa mengampuni. Kuasa kasih dan kuasa murka. Demikianlah sifat-sifat Mulajadi Na Bolon, Tuhan yang satu bersadarkan Ugamo Malim.
Dalam Injil Perjanjian Lama, menceritakan Raja Salomo dikenal dengan Nabi Sulaiman, memerintahkan rakyatnya melakukan perdagangan dan membeli rempah-rempah hingga ke Ophir. Ophir patut diduga adalah Barus di Tapanuli. Perkiraan itu punya jejak spiritual berbentuk kepercayaan monotheisme. Misalnya Ugamo Parmalim yang menjadi agama asli etnis Batak, meyakini Tuhan Yang Maha Esa dengan sebutan Ompu Mulajadi Na Bolon (Parmalim atau Ugamo Malim, pen).
Selain itu, sekelompok penyebar ajaran Kristen Nestorian dari Persia yakni Iran, yang menjejakkan kakinya di Barus. Kelompok itu diperkirakan datang sekira tahun 600an Masehi dan mendirikan gereja
pertama di Desa Pancuran, Barus.
Tambahan: Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau.
Emas itu didapatkan dari negeri Ophir. Kitab Al-Qur'an, Surat Al-Anbiya' 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar ke "tanah yang Kami berkati atasnya" (al-ardha l-lati barak-Na fiha). Di manakah gerangan letak negeri Ophir yang diberkati Allah itu? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatera! Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ophir-nya Nabi Sulaiman a.s.
Secara "teologis" bisa dikatakan bahwa ugamo malim juga menganut paham monoteistik, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa karena tujuan akhir semua doa mereka tetap diarahkan kepada debata Mulajadi Nabolon (Tuhan Pencipta langit dan bumi). Ini hal yang luar biasa uniknya. Tidak ada analisis yang dapat menerangkan itu jika tidak menghubungkannya dengan faham monoteisme Yudaisme bangsa Israel kuno yang terbawa melekat hingga sekarang, tidak lekang oleh kikisan kurun waktu ribuan tahun.
Dalam melaksanakan ibadah, Parmalim melaksanakan upacara (ritual) Patik Ni Ugamo Malim untuk mengetahui kesalahan dan dosa, serta memohon ampun dari Tuhan Yang Maha Esa yang diikuti dengan bergiat melaksanakan kebaikan dan penghayatan semua aturan Ugamo Malim.
Sejak lahir hingga ajal tiba, seorang "Parmalim" wajib mengikuti 7 aturan Ugamo Malim dengan melakukan ritual (doa). Ke-7 aturan tersebut adalah :

1. Martutuaek (kelahiran)
2. Pasahat Tondi (kematian)
3. Mararisantu (peribadatan setiap hari sabtu)
4. Mardebata (peribadatan atas niat seseorang)
5. Mangan Mapaet (peribadatan memohon penghapusan dosa)
6. Sipaha Sade (peribadatan hari memperingati kelahiran Tuhan Simarimbulubosi)
7. Sipaha Lima (peribadatan hari persembahan / kurban)

Selain ke-7 aturan wajib di atas, seorang "Parmalim" harus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan seperti menghormati dan mencintai sesama manusia, menyantuni fakir miskin, tidak boleh berbohong, memfitnah, berzinah, mencuri, dan lain sebagainya. Diluar hal tersebut, seorang "Parmalim" juga diharamkan memakan daging babi, daging anjing dan binatang liar lainnya, serta darah.
Manusia yang mematuhi dan mengikuti ajaran Tuhan dan melakukannya dalam kehidupannya, memiliki pengharapan kelak ia akan mendapat kehidupan roh suci nan kekal.-Kata bijak Ugamo Malim
Secara implisit, inilah yang menjadi ajaran suci keyakinan Ugamo Malim atau lebih dikenal dengan Parmalim di Tanah Batak sejak turun temurun, seperti yang dikatakan Raja Marnakkok Naipospos selaku Ulu Punguan (pemimpin spiritual) Parmalim terbesar di Desa Hutatinggi Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir.
Menurut beberapa pandangan ilmuwan sosial, sebenarnya Ugamo Malim layak menjadi sebuah agama resmi. Alasannya ialah dalam ajaran aliran ini juga terdapat nilai-nilai religius yang bertujuan menata pola kehidupan manusia menuju keharmonisan, baik sesama maupun kepada Pencipta.
Dan secara ilmu sosial tujuan ini mengandung nilai luhur. Bahkan, ajaran Parmalim menuntut manusia agar hidup dalam kesucian," jelasnya kemudian menerangkan secara detail asal-muasal kata Parmalim yang berasal dari kata "malim".
Malim berarti suci dan hidup untuk mengayomi sesama dan meluhurkan Oppu Mulajadi Nabolon atau Debata (Tuhan pencipta langit dan bumi). "Maka, Parmalim dengan demikian merupakan orang-orang mengutamakan kesucian dalam hidupnya," jelas Marnangkok. Yang kami puja tak lain adalah Oppu Mula Jadi Na Bolon bukan"begu" (roh jahat)," katanya.
"Dan inilah yang menjadi bias negatif dari masyarakat terhadap Parmalim." Marnangkok kemudian menjelaskan, Oppu Mula Jadi Nabolon adalah Tuhan pencipta alam semesta yang tak berwujud, sehingga Ia mengutus sewujud manusia sebagai perantaraannya (parhiteon), yakni Raja Sisingamangaraja yang juga dikenal dengan Raja Nasiak Bagi. Raja Nasiak Bagi merupakan julukan terhadap kesucian (hamalimon) serta jasa-jasanya yang hingga akhir hidupnya tetap setia mengayomi Bangsa Batak. Nasiak Bagi sendiri berarti ditakdirkan untuk hidup menderita. Ia bukan raja yang kaya raya tetapi hidup sama miskin seperti rakyatnya.
Dengan demikian, Parmalim meyakini bahwa Raja Sisingamangaraja dan utusan-utusannya mampu mengantarkan mereka (Bangsa Batak) kepada Debata. Ugamo Malim diyakini sebagian orang sudah ada sebelum ajaran Kristen dan Islam masuk ke daerah itu. Hidup dalam kepasrahan. Barangkali itu jugalah intisari dari pernyataan kata bijak Parmalim yang mengatakan: "Baen aha diakkui sude bangso on hita, ia anggo so diakkui Debata pangalahon ta." (Tidakklah begitu berarti pengakuan semua bangsa terhadap kita, dibandingkan pengakuan Tuhan terhadap perilaku kita).
Catatan: Sisingamangaraja, adalah Singa yang merajai. Para Datu atau Tua-Tua Batak Toba, menjuluki Singa bagi Hukum dan Singa bagi para raja. Padahal Singa tidak ada di Tapanuli, yang ada hanyalah Harimau. Kalau dilihat dari makna simbolis alkitab, hanya Suku Yehuda yang dijuluki Singa Yehudah.
Seperti apa yang kemudian dijelaskan Marnangkok, Pemimpin Parmalim, " Untuk apa pengakuan dari setiap bangsa jika Tuhan sendiri tidak mengakui perbuatan kita di dunia ini?" Nampaknya, perjuangan Ugamo Parmalim sudah berujung pada kepasrahan. Dalam kepasrahan ini tentu saja masih ada harapan. Tapi, harapan itu bukanlah berasal dari dunia, melainkan dari Oppu Mula Jadi Nabolon. Dalam harapan itu, ada pula ketaatan untuk selalu mempertahankan hidup suci. Selanjutnya ia mengucapkan kalimat dalam bahasa Batak, "Berilah kepada kami penghiburan yang menangis ini, bawalah kami dari kegelapan dunia ini dan berilah kejernihan dalam pikiran kami." Mereka yakin Debata hanya akan memberkati orang yang menangis. Nah, dalam kepasrahan yang berpengharapan inilah mereka hidup. Dalam keterasingan itu juga mereka menyerahkan hidupnya pada "kemaliman" (kesucian). "Parmalim adalah mereka yang menangis dan meratap," katanya.
Dalam ritual Ugamo Parmalim sendiri, terdapat beberapa aturan dan larangan. Selain mengikuti 5 butir Patik ni Ugamo Malim (5 Titah Ugamo Malim), juga terdapat berbagai kewajiban lainnya seperti Marari Sabtu atau ibadah rutin yang diadakan setiap Sabtu. Dalam menjelang hari Sabtu, pengikut Parmalim dilarang bekerja atau melakukan kegiatan apapun. Atau melakukan ucapan syukur dilakukan umat Parmalim setiap hari Sabtu.
Marnakkok Naipospos, pemimpin Parmalim mengatakan: "Samisara itu hari ketujuh bagi orang Batak. Diidentikkan dengan hari Sabtu, supaya berlaku untuk selamanya. Karena kalau kita bertahan pada kalender Batak, yang muda ini bisa bingung. Makanya kakek kita menentukan samisara ini hari Sabtu."
Kewajiban lain di antaranya adalah Martutu Aek, yakni pemandian bayi yang diadakan sebulan setelah kelahiran, Pasahat Tondi yaitu ritual sebulan setelah kematian, Pardebataan, Mangan na Paet dan Pangkaroan Hatutubu ni Tuhan.
Ada pun larangan yang hingga kini masih tetap dipertahankan di antaranya adalah larangan untuk memakan daging babi dan darah hewan seperti yang lazim bagi umat Kristen. Memakan daging babi atau darah dianggap tidak malim (suci) di hadapan Debata. Padahal dalam ajaran Parmalim sendiri dikatakan, jika ingin menghaturkan pujian kepada Debata, manusia terlebih dahulu harus suci. Ketika menghaturkan pelean (persembahan) kesucian juga dituntut agar Debata dan manusia dapat bersatu. Selanjutnya, Raja Sisingamangaraja memiliki keturunan hingga 12 keturunan. Itu pun secara roh.
Inilah yang kemudian menjadi acuan pada acara atau ritual-ritual besar Ugamo Parmalim yang diadakan rutin setiap Sabtu dan setiap tahunnya. Ritual-ritual besar Parmalim itu seperti Parningotan Hatutubu ni Tuhan (Sipaha Sada) dan Pameleon Bolon (Sipaha Lima), yang diadakan pertama pada bulan Maret dan yang kedua bulan Juli.
Yang kedua diadakan secara besar-besaran pada acara ini para Parmalim menyembelih kurban kerbau atau lembu. "Ini merupakan tanda syukur kami kepada Debata yang telah memberikan kehidupan," kata
Marnangkok.
Catatan: Dalam Kitab Paramalim, yakni Tumbang Holing, terdapat kisah manusia pertama, Adam dan Hawa termasuk taman eden dimana hawa digoda si ular. Hal itu dalam istilah bahasa Batak Toba. Parmalim itu bisa jadi merupakan ajaran usianya sudah ribuan tahun, jauh sebelum Islam dan Kristen masuk dan mempengaruhi keyakinan etnis Batak. Demikian pula dengan simbol dan pakaian kebesaran kerajaan Batak Toba dan Parmalim, agama leluhur Bangso Batak Toba, cenderung mendekati simbol-simbol agama Samawi, misalnya, tongkat, pedang, sorban berwarna putih serta stempel kerajaan. Jika dihubungkan cerita tentang penemuan mummy Mesir yang dibalsem dengan rempah-rempah pengawet di antaranya kanfer (kapur barus) serta kisah tentang Raja (Nabi) Sulaiman/ Salomo membutuhkan rempah-rempah dari Ophir (Barus) di Tapanuli, diperkirakan jejak agama monotheisme Israel terserap dan kemudian mengakar dalam keyakinan Parmalim/Hamlimon/Ugamo Malim, agama Bangso Batak Toba.

Saya cukupkan saja dulu hingga disitu, karena terlalu letih untuk membeberkan semua, termasuk indikasi-indikasi lemah yang banyak jumlahnya. Jika data yang diatas itu saja dibawa kepada ahli statistik, yang tentu akan mempertimbangkan semua aspek-aspek lain yang terkait kedalamnya, simililaritasnya dengan tradisi bangsa Israel kuno dengan bukti autentik tertulis dalam Alkitab, informasi sejarah sekuler, tradisi Semitik yang ada hingga sekarang, serta kesamaan tradisi itu pada suku Batak setelah kurun waktu kurang lebih 3000 tahun, angka perbandingan untuk mengatakan bahwa suku Batak Toba bukan keturunan Israel mungkin 1 : 1,000,000 bahkan bisa jadi lebih.
Tulisan ini tidak bermaksud menampilkan superioritas ras, suku atau bangsa atau budaya tertentu. Jika tulisan ini menimbulkan kesan seolah-olah menonjolkan superioritas suatu budaya tertentu, hal itu semata-mata terjadi karena topik yang berfokus pada peran suatu etnis atau Bangso Batak Toba. Keberadaan unsur asing dalam kebudayaan suatu bangsa adalah sebuah kewajaran. Penyerapan unsur asing ke dalam suatu budaya lokal tidak berarti menunjukkan inferioritas kebudayaan yang menyerapnya.
Sejarah justru mencatat, kebesaran suatu kebudayaan berkorelasi positif dengan banyaknya unsur asing yang diserap dan dikembangkan oleh komunitas budaya bersangkutan. Sejarah juga mencatat interaksi suatu komunitas budaya dengan komunitas budaya lain, berjalan timbal balik, tidak pernah searah saja. Tulisan ini mestilah dipahami sebagai upaya menampilkan kemungkinan terjadinya pertukaran nilai budaya dalam rentang waktu beberapa abad antara Timur dengan Barat.
Pada jaman Raja-raja Israel dan Yehudah, telah dilakukan kontak dengan Barus, Tapanuli dengan Israel, Mesir, Persia, Cina, India, Arab, Yunani dan Pakistan yang terjadi satu milenium sebelumnya, hubungan dagang tersebut sudah berlangsung beberapa abad sebelum masehi).

Sumber Tulisan : Milis Batak Gaul / Sumber gambar : picasaweb.google.com

19 komentar:

Erwin Sapta said...

Pertamax... serupa tapi tak sama itu abangnda...

TUKANG ARSIP said...

iyo agak serupa ...dsifatnyo mungkin beda

' Li ' said...

serupo tapi tak samo ha...

yulia said...

ooo~~ gitu toch, baru taw..
thanks yach infonya~~

CHIKO said...

Sudah lama saya baca informasi ini Om. Adat Batak Toba juga tidak jauh beda dengan adat Orang Toraja. Mungkin dulu ada yang salah jalan dan akhirnya tersesat ke Pulau Sulawesi y?? hehhehe..

Lyla said...

waduhh... kok panjang amat ya...postingannya hehehe...

Seno said...

Mungkin juga ini yang menyebabkan peta Indonesia ada di situs Israel ya.

Kalo saya bilang tidak serupa tidak sama he..h.e.. jika kita mencari persamaan secara otomatis akan banyak ditemukan, tapi jika kita mencari perbedaan itupun akan kita temukan.

Horas.

samuel said...

waduh saya benar2 baru tahu neh ada yang kaya gini, tp kl dipikir2 ma disambung2in masuk akal juga seh..
nice info..mau kasih tau mamak ah,,hihihi

sibaho said...

dari paparan di atas, kalau saya lihat (no offense): sudah diyakini dulu (batak keturunan israel) baru dicari-cari dan comot-comot dalil pendukungnya. mestinya dapat bukti konkrit dulu baru diyakini. jadi prosesnya yang terbalik.
anyway, persamaan batak dengan manado dan flores banyak juga lho..jangan jauh-jauh ke israel dulu deh :)

ipanks said...

wow ternyata sejarahnya panjang juga y om.selain baru tau sejarahnya, daku jadi banyak belajar kalo antara setiap suku di indonesia mempunyai banyak persamaan dan perbedaan, dan itu yang membuat bangsa indonesia ini menjadi sangat kaya.nice info om.makasih jadi udah tau

Essie Gultom said...

Horas ito,memang ada juga kelompok ilmuwan - ilmuwan di kota Den Haag dan berkantor di Maurits kade nama jalannya di Belanda yang mencoba menggali soal apa yang di paparkan ito itu.Kelompok itupun pernah ke Tano Batak bahkan keliling Indonesia to do some research apakah ada di Indonesia ini sekalipun itu hanya satu saja orang dari suku batak yang ternyata benar dari garis keturunan bangsa Israel. Research tersebut berdasarkan penilaian mereka terhadap suku batak yang sangat odentik dengan kaum Israel. Jadi intinya di sini tidak di dasari oleh menyama - nyamakan ataupun di membanding - bandingkan tapi lebih kepada adakah kemungkinan suku batak ini tidakmenyadari bahwa mereka adalah garis keturunan langsung dari bangsa Israel dan bila terbukti bahwa hal penelitian itu benar adanya, maka dengan demikian setiap keturunan tersebut berhak pulang ke tanah perjanjian yang di sebut di Alkitab, karena juga tanda - tanda akhir zaman adalah bilamana seluruh bangsa Yahudi dan keturunannya kembali ke tanah perjanjian maka hari suka cita yang di nanti2 kan umat Kristiani sudah dekat adanya. Nah, di waktu Eropa dan Amerika mengalami ketegangan karena adanya perselisihan dengan timur tengah (sekitar 86 - 87an)banyak org2 Israel yang kembali ke Negara asalnya. Berdasarkan itulah mereka mencari dan menggali kebenaran tentang suku batak. Bila benar, maka Israel tidak boleh menutup pintu bagi orang2 batak sekalipun mereka adalah warga negara Indonesia. Gicu loh kawan2 ceritanya. Saya dari kecil di belanda dan belum lama tinggal di Indonesia makanya tau. Thank you and God Bless you all......cheers

dffdf said...

נוד הוא ישראל וישראל הוא נע ונד, להמשיך כך עד הסוף

Anonymous said...

Si Batak Keturunan Anjing

oleh Angin Petang

Seperti banyak orang minang yang tumbuh dan besar di
kampung, saya naturally tidak punya kesan dan persepsi
yang bagus tentang orang batak.

Batak adalah kafir pemakan anjing. Tentu juga makan babi,
tidak beradat, maling, perampok, mabuk, dan ujung titit
tidak dipotong, adalah hal-hal lainnya yang worth to
mention.

Tentu berbeda sekali dengan orang Minangkabau yang islami,
beradat dan santun, serta berbudaya.. Berbeda sekali
dengan orang Minang yang katanya berpendidikan dan
berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Orang batak adalah
kaum yang malang berbudaya rendah dan sayangnya juga
mantiko, menyebalkan dan berpeluang besar jadi sampah
masyarakat.

Mungkin tidak hanya saya, banyak batak sendiri yang
mencoba membangun jarak dengan kebatakan mereka. Lihatlah,
betapa mandailing, angkola, dan juga sebagian karo atau
dairi-pakpak mencoba memutuskan asosiasi dengan kebatakan
mereka. Bahkan, banyak yang terang-terangan di pantai
timur menjelma menjadi melayu.

Namun, belakangan, banyak hal-hal baru tentang orang batak
yang saya ketahui. Nggak semua batak jadi kernet bus,
banyak yang jadi sopir juga, dan sekaligus pemiliknya.
Banyak juga batak yang motong ujung tititnya, nggak makan
anjing, nggak makan celeng. Banyak batak yang rajin ke
mesjid, bernama arab, dan berjilbab ria. Banyak batak yang
mentereng, wangi, mengkilat, dan gak berjigong. Banyak
batak jadi camat, lurah, menteri, bupati, gubernur,
rektor, dan pengusaha. Banyak batak yang cantik jelita,
tampan rupawan, ganteng rumanteng.

Di Bandung, saat nyasar sekolah di jurusan dan fakultas
top di kampus yang katanya paling tob se Indonesia, saya
baru menyadari betapa banyak batak cerdas berseliweran.
Kalau minang perantauan diexcluded, surely lebih banyak si
batak pintar di kampus ini daripada si minang. Batak-batak
ini tak hanya senang bergitar, mereka juga pintar
bernyanyi bersama dalam paduan suara harmonis. Dan saya
nggak sempat lihat mereka makan anjing, malah pada rajin
ke restoran padang.

Selain berambut hitam, berjakun, dan berpantat dua, banyak
kenalan dekat batak saya yang berhati lembut, santun, dan
pemurah hati. Ingin rasanya saya menuliskan nama-nama
teman lama batak itu di sini.

The reality is… tertinggal beratus-ratus kilometer di
belakang, batak melaju kencang, dan dengan mantap menyalip
Minang yang senang berlenggak-lenggok seperti banci dengan
pantun-pantun dan ayat-ayat al quran berhahasa arab kuno
itu.

Di Jakarta, batak menyelip di antar ratusan pedagang
minang, dan menggeser pelan-pelan, bahkan mendominasi di
beberapa titik. Lebih banyak pengusaha baru sukses batak
dari pada minang. Lebih banyak insinyur berkualitas batak
dari minang. Lebih banyak eksekutif baru batak daripada
minang. Jangan ditanya pengacara, hakim dan jaksa Lebih
banyak batak jadi politikus dan birokrat daripada Minang.
O iya, ada Hatta, Sjahrir, Agus Salim, dll…iya, di abad
lalu…

Penulis dan sastrawan? Chairil Anwar, Sutan Takdir
Alisjahbana, Idris, Adinegoro, etc? Masih untung masih ada
Pak Habe dan Pak Edizal. Dan yang jelas semakin banyak
perempuan cantik lebih tergila-gila pada batak sukses,
regardless ujung titit mereka dipotong atau tidak,
daripada Padang bau rendang.

Ada beberapa nama Minang yang mencoba terseok-seok
menyaingi Batak, tapi mereka lebih minang perantauan yang
tidak terikat pada nilai-nilai primitif minang.

Yang tersisa? yang tersisa bagi orang minang adalah
keirian, setidaknya bagi minang seperti saya. Tidak
gampang mengubah perspective yang sudah built-in tentang
kaum inferior bernama batak, pemakan anjing, titit
berujung, perampok, pemabok, dan yes kafir…Yang ada adalah
keirian. Ini sangat berat bagi orang Minang, menghadapi
kenyataan menyakitkan ini.

Tapi hari demi hari, saya makin simpati pada barisan batak
ini. Saya melihat kejayaan orang Minangkabau masa lalu
pada kaum pemakan celeng ini. Cerita kesuksesan kaum
minoritas Minangkabau di masa lalu, terulang pada kaum
Batak.

Menolak adat dan kebiasaan yang tidak sesuai jaman dan
tidak produktif; belajar dan mengadopsi peradaban,
kebudayaan, dan pengetahuan baru dari Eropa atau Timur
Tengah; kritis, berani berbicara dan bertindak; membuka
mata, telinga, dan hati lebar-lebar… semuanya adalah
pondasi kesuksesan orang Minangkabau di masa lalu. Hal
yang dilupakan telak-telak oleh orang Minangkabau
sekarang, diambil alih dengan mantap oleh orang batak.
Orang minang senang meringkuk dalam tempurung adat
bersyandi syarak, dan syarak bersandi kitabullah itu.
Rajin menghapal pantun-pantun dan ayat alquran berbahasa
arab, dan berpegang padanya erat-erat, very tightly.Tidak
punya nyali dan titit untuk melangkah keluar dari
tempurung kecil berselimut sabut kelapa jamuran itu.

Setiap kali saya membaca koran, majalah, internet, dan
menonton tivi..saya seperti melihat Muhammad Hatta dengan
marga Situmorang sedang berbicara atau dibicarakan, saya
seperti melihat Sutan Sjahrir dengan marga Panggabean; M
Natsir Simbolon, M Yamin Pangaribuan, Agus Salim
Butar-Butar, Adinegoro Hutabarat, Chairil Anwar Harahap,
Sutan Takdir Alisjahbana Simanjuntak, Marah Rusli Siagian,
Rohana Kudus Napitupulu, Rasuna Said Siregar, Abdul Muis
Tobing, Tan Malaka Marpaung, Buya Hamka Pardede….

Menurut majalah Tempo, 6 dari 10 tokoh Indonesia paling
berpengaruh di abad 20 adalah kaum minoritas Minangkabau.
Quite possibly, untuk abad 21, enam dari sepuluh tokoh itu
adalah dari kaum minoritas Batak.
Nampaknya, mimpi saya untuk melihat orang Minangkabau
membangkit batang terendam, mengulangi kejayaan masa lalu
tercapai sudah, melalui kaum Batak kafir pemakan anjing
ini.

Tapi, sebaiknya saya berhenti mengasosikan Batak dengan
anjing, baiknya lah dengan kabau alias kebo. Kerbau adalah
simbol kemenangan orang Minang di masa lalu=
`Minangkabau'. Namun, kini orang Batak jelas lebih berhak
memanggulnya…Batakkabau!

Saya berharap ada kaum Batakkabau yang menerima saya
menjadi bagiannya, dengan senang hati saya rubah suku
Sikumbang ini menjadi marga Simatupang.

—————————————
htpp://anginpetang.wordpress.com


Gerakan Aktivis Muda Minang:

http://groups.yahoo.com/group/aktivis_minang/message/6017

Anonymous said...

Si Batak Kketurunan Anjing 2
oleh Sangkakala

Orang Batak... saya lumayan banyak bergaul dgn orang-orang dgn ras
ini...

Pada dasarnya sifat mereka ini kareh angok, terus terang dan dgn aksen
suara bergaung meninggi agak meletup-letup... tampang dan postur lebih
proporsional sep orang-orang eropa (jangan-jangan mereka-mereka orang
batak ini yg keturunan dari alexander yg terdampar dipulau sumatera
dan mengasingkan diri disekitar danau toba)... Toh moyang mereka
dulunya kanibalisme pemakan daging manusia dan juga penikmat anjing yg
mengingatkan saya ttg sifat eropa nazi pemakan manusia... juga doyan
tuak dgn lapo-lapo tuak dan suka ribut dgn terakhir mati konyollah
abdul azis angkat si ketua DPRD Sumatera Utara oleh orang-orang asal
dari ras ini..

Dari karakter mereka agak lebih terbuka dan sedikit punya naluri
kebinatangan seperti layaknya ras eropa yg punya energi mau menang
sendiri dgn otak encer dan suka buka suara apa adanya... coba lihat
gaya dari pengacara-pengacara papan atas kita yg terlihat garang,
juga banyak artis-artis cantik indonesia yg kawin dgn binatang-
binatang dari ras ini yg suka cumbui wanita dan terlihat jantan juga
doyan cumbui wanita.. ini memang belum sebuah kesimpulan sahih, perlu
pendalaman penelitian lebih lanjut....

Sementara orang Minang yg kabarnya bertali darah Alexander the Great,
nyatanya banyak yg berpostur rendah semampai dgn bahu bulat dan pipi
tembem, meramah-ramahkan diri, perasa, juga berbicara lemah lembut,
sedikit pelit, penuh pertimbangan, yg kalo berantem kedepankan dulu
perang mulut dan lalu lari kalo diajak berantem beneran (maaf tidak
termasuk saya yg kalo diajak bacakak ayo saja, apalagi kalo cakak
suara alias debat.. saya dah biasa)

Tapi khusus soal bacakak atau berkelahi dulunya orang Minang termasuk
salah satu suku jagoan di Nusantara, lihat perang Paderi yg sudahlah
kita dikeroyok Orang Eropa dan budak-budak afrika dgn koordinatori
oleh urang Ulando, juga dikeroyok pula oleh orang-orang senusantara
mulai dari orang jawa, bugis, ambon, dan termasuk si batak pemakan
mayat, nyatanya perang Paderi berlangung selama 24th mulai dari thn
1821 hingga 1845 walau Bonjol telah jatuh thn 1837).... Ini bukti
mampunya orang minang dulu soal lego pagai alias perang habis-
habisan...

Sementara soal doyan perempuan, orang minang dulu memang jago, kontras
dgn minang sekarang yg berbini satu saja... dan daya Imajinasi orang-
orang dulu agak lebih unggul dabanding sekarang.. terlihat dari begitu
banyaknya pujangga-pujangga asal Minang yg berurai cerita ttg cinta
dan inisiator-inisiator asal minang yg ambil Inisiatif dalam
pergerakan kemerdekaan..

Dan ttg uang, dari dulu-dulunya orang-orang kita amat penuh kerinduan
ttg yg satu ini, sehingga banyak yg suka dagang, senang bissniss dan
berniaga.. sampai sekarang masih banyak yg berprofesi pedangang dan
bisnismen yg walau kaki limanya disapu oleh si keparat sutiyoso yg
ninik mamak orang minang se jakarta, tapi berbagai belahan pulau Jawa
lain masih ditemui banyak pedagang-pedagang asal tanah minang, dan
anehnya ada juga yg berprofesi mengandalkan lututnya bukan otaknya
yaitu tukang becak.. ini saya temui di daerah indramayu...

Tapi sayang pola bissniss sebagian besar orang Minang masih berpola
tradisional belum memakai manajemen bissniss modern... Kita lihat
pewaralaba dan franchisee asal Jawa dan Sunda lebih unggul dibanding
orang Minang.. Juga konglomerat dan pebissnis internasional asal
Indonesia malahan dipegang jawa juga dgn Sunda mulai naik, plus
pedangang-pedagang bugis juga termasuk beberapa pebisniss asal tanah
batak...

Walau demikian banyak juga orang jawa yg ngomong satu-satunya pribumi
yg bisa bersaing dgn orang cina adalah orang minang.. dan pernah
kemarin saya berdiskusi dgn pebissnis ras cina, dia akui juga orang
Minang pintar bisnis layaknya orang cina dan dia ngomong orang padang
dan orang batak kalo dagang pakai otak layaknya orang cina...
sementara orang jawa berbisnis pakai hari tangal baik, pakai susuk,
penglaris dan klenik, orang minang pakai bismillah dan perhitungan-
perhitungan otak..( saya kurang yakin juga ttg yg satu ini, orang
Minang masih pakai penglaris juga, dan malah masih juga ada yg gagal
dan pulang kembali kekampung)

Karakter orang Minang sepertinya susah bekerja sama dgn banyak orang
dan lebih suka main sendiri, kelola sendiri dan makan sendiri..ini yg
bikin bisniss orang minang susah berkambang dahsyat.. padahal untuk
maju, kita mesti juga bikin maju orang lain.. bisnis maju tersebab
daya beli orang-orang yg naik. kalau orang lain tidak maju maka tidak
ada daya beli dan bisnis orang minang tidak akan berkembang pesat..
Dan segi manajemen modern tidak dipelajari sepenuhnya dan masih
berpola bisnis gaya lama yg kekeluargaan dgn satu tangan pengelola..
padahal bisnis kalo mau besar mesti berani mendelegasikan atau
mempercayakan pada orang-orang...

Orang-orang batak yg dilihat akan mendahului orang Minang, saya kira
ini hanya sebuah kecemasan internal saja bukan realita yg
sesungguhnya... orang batak dgn marga dibelakang nama memang
memudahkan pengidentifikasian atas asal usul mereka... tapi orang ini
bukan bersifat tepo seliro atau tenggang rasa atau lamak diawak katuju
dek urang.. mereka lebih ego yg saya kira sulit untuk diterima dimana-
mana...

tetapi ngomong-ngomong sekarang amat banyak artis kita yg berasal
dari Minang saat ini.... mereka mulai dari Bunga Citra Lestari hingga
Marshanda, Olga pembanyol dan Nirina Zubir dan masih banyak lagi...
sayang sebagian mulai hidup beralih sifat lebih sekuler dibanding
lebih melayu...

Dan ttg prospek orang minang kedepannya.. nah ini yg sulit
diperkirakan.. Dari segi karakter bisa maju, tapi orang kita kurang
sekreatif pendahulu-pendahulu mereka.. dan sepertinya mulai kurang
berdaya inisiatif memulai sebuah gebrakan baru... walau ada satu dua
seperti Rizal Ramli yg calonkan diri jadi Capres Independen,
kebanyakan surut daya inisiatif mereka dan mulai berpola top down, apa
kata diatas harus dituruti...

Mental penurut mulai bersemi dalam struktur saraf orang Minang,
padahal dulunya berfalsafah diiyokan kato urang dilaluan kecek awak...
tidak ada pilihan lain selain berusaha sekreatif inovatif mungkin,
lalu mengambil inisiatif dan bikin kerjasama dgn semua orang yg
mungkin dan terapkan pola manajemen paling modern dan update.. saya
jamin kita tidak akan pernah ketinggalan kereta..


Sang

Bunderan Mangga, Indramayu

Anggota Aktivis Muda Minang:
http://groups.yahoo.com/group/aktivis_minang/message/6017

saswiria said...

Penelitian itu mungkin ada benarnya.....bahkan 80%persen ada keterkaitan....yang jadi masalah adalah sumber dari penelitian itu,khususnya alkitab....harus ada penelitian lebih mendalam tentang alkitab yang beredar saat ini...serta pembuatan alkitab yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa serta kemungkinan adanya kesalahan tafsir..yang lebih utama harus diteliti asal-usul alkitab dan keabsahannya...alkitab yang beredar bukanlah alkitab yang asli....perlu ada studi perbandingan agama...kalo hanya begitu saya jg bisa bilang kalau "agama kristen/katolik hanyalah agama pecahan dari islam krn tidak ingin identitasnya hilang karena adanya Nabi Baru (Nabi Muhammad) penggantinya Nabi Isa"

Return to My Blogg said...

Dugaan itu, menurut saya nggak selalu benar dan saya kurang setuju. Mengapa? Karena, walaupun orang batak diduga keturunan Israel atau keturunan apa, tapi Batak adalah orang Melayu dari keturunan Proto Melayu (Melayu tua), sedangkan, Israel hanyalah sukunya keturunan Arab. Beda-beda sedikit memang. Keturunan Arab seperti Israel belum tentu masuk Proto Melayu, karena ras-nya sudah lain. Lihatlah, gimana wajahnya orang Israel, mirip bule, mirip juga arab. Apa nggak bisa dibandingkan? Iya memang, kalo suatu ras berbaur dengan ras lain, kayak Israel sama pribumi Tapanuli, mungkin akan menjadi orang melayu campur Israel. Tapi, manalah mungkin orang Israel mau berbaur menikah dengan pribumi?
Wong pribumi Indonesia dulu memusuhi Belanda, yang juga ada Irael Yahudinya.

Lalu, tradisi-tradisi batak itu, janganlah terlalu dibandingkan dengan Israel sana. Nggak terlalu mirip. Yang tinggal di daerah Tapanuli sana, pasti nggak terima. Apalagi saya yang bukan orang Batak. Apa mungkin kepintaran dan kejeniusan orang Israel itu mewarisi kepada keturunan Batak? Nggak selalu.

Kalo soal kareh kapalonya orang Batak itu, mungkin ada miripnya dikit. Tapi, nggak mungkinlah urang Batak itu keras kepalanya macam orang Israel. Itu keterlaluan namanya. Nyamain batak sama Israel. Kalo orang Batak sudah keras kepalanya seperti Israel sana, habislah Batak dibantai pemerintah.

Itulah, kurang setujunya saya. Kalo emang bener-bener terjadi itu, kiamatlah Indonesia. TOh, orang Batak memang harus saling memberi celah supaya suku lain yang di Indonesia mencurahkan kesempatannya. Emang sih, kalangan jaksa, ketua parpol, sampe menteri pun mayoritas orang Batak, tapi, orang batak mungkin nggak bisa jadi yang lain. Tapi kan, yang suku lain ada perannya juga. Kalo yang Israel mirip batak ato sebaliknya, saya tetep kurang setuju!! Nggak ada miripnya kaleeee.....

jabon said...

jabon

wah malah bingung ni saya .. hemmmmm


jabon

Anonymous said...

Horas,Saya ida kalau saya hampir yakin orang batak keturunan Israel,tanpa diceritain pun sy bisa melihat ada persamaannya di alkitab, pasti ada yg tdk setuju disamakn dgn israel apalagi kebenciannya trhdp israel, dgn torajapun mgkn batak jg msh satu keturunan banyak kesamaan sifat, adat dan rumah adat,makanya di indonesia timur orang batak lebih suka kawin sama toraja daripada suku di luar batak, apalagi raja batak terdiri dari 3 bersaudara, salah satu ke kerajaan Bone (sulawesi gitulah) yah mgkin itu orang toraja, kalau mau disama-samain dgn menado tidak ada kesamaannya baik dari sikap,sifat, dan adat, jadi jauhlah gitu, jadi bukan untuk dimirip-miripin lho, masalah keras kepala, batak juga keras tapi mungkin karena telah bergabung dengan sifat melayu yah tidak sekeras israel lagi,gitu. tapi tidak apa-apalah, baik keturunan israel kuno maupun tidak, tidak apa-apalah yang penting mnjd pewaris kerajaan Allah yang raja Syalom, ya tidak

Anonymous said...

orang batak,toraja dan israel masih satu keturunan, terbukti dari banyaknya kesamaan, sama orang jawa, menado,tidak ada sifat,sikap, dan adat yang membuat untuk disama-samakan, jadi bisalah saya terima keadaan itu, yah mdh2an kita kembali bersatu dgn israel, dan tidk selalu menbenci mereka, karena dalam alkitab tertulis perkataan Tuhan" siapa yang membenci bangsaKu Israel akan Kukutuk dia, dan siapa yg memberkati bangsaKu Israel akan Kuberkati dia,jadi jangan mengutuki Israel karena akan berbahaya, biarlah Tuhan yang berpekara atas itu semua, dan kita tdk mengutukinya, Syalom.