Tibet_Baby

"Di tempat yang lebih tinggi orang membenamkan bayi-bayi yang baru lahir di sungai-sungai yang airnya sedingin es untuk menguji apakah bayi-bayi itu cukup kuat untuk hidup. Sering saya melihat iring-iringan kecil orang menuju ke sungai kecil serupa itu, mungkin di ketinggian sekitar 5.200 meter di atas permukaan laut. Iring-iringan itu akan berhenti di pinggir sungai, dan sang nenek akan mengambil bayinya. Di sekitarnya berkumpul keluarga bayi tersebut : ayah, ibu, dan keluarga terdekat. Pakaian si bayi dilepas, kemudian sang nenek membungkuk dan membenamkan tubuh mungil itu ke dalam air, sehingga hanya kepala dan mulutnya saja yang tampak. Di dalam air yang dingin menggigit tersebut tubuh bayi itu berubah menjadi merah, lalu biru, dan tangisannya seakan memprotes berhenti. Bayi itu keliahatannya sudah meninggal, tetapi sang nenek sudah mempunyai banyak pengalaman dengan hal-hal seperti itu. Si kecil lalu diangkat dari air, dikeringkan, dan diberi pakaian. Jika sang bayi bertahan hidup, maka itu adalah kehendak para dewa. Jika meninggal, berarti ia telah dibebaskan dari penderitaan di dunia ini. Cara ini bisa diterima di negeri yang sangat dingin ini. Jauh lebih baik bayi-bayi itu meninggal daripada mereka nantinya tumbuh menjadi orang-orang cacat yang tak terobati di negeri di mana bantuan medis sangat langka ini."

Kesannya kejam ya. Tapi begitulah cara orang di Tibet dalam menguji bayi-bayi apakah cukup kuat untuk hidup atau tidak. Cuplikan cerita di atas saya ambil dari buku yang berjudul "Mata Ketiga" oleh Tuesday Lobsang Rampa. Buku yang menceritakan khasanah rohani Tibet dan misterinya.

Dalam bukunya T. Lobsang Rampa menyebutkan, di Tibet tidak ada tempat bagi orang-orang yang lemah. Lhasa berada pada ketinggian 3.600 meter di atas permukaan laut, dan memiliki suhu yang sangat ekstrem. Distrik yang lain letaknya bahkan lebih tinggi lagi dan keadaannya lebih sulit. Orang-orang yang lemah bisa membahayakan yang lain. Karena alasan inilah, dan bukan karena bermaksud kejam, latihan-latihannya sangat keras.

Jadi tindakan atau perlakuan yang bagi orang lain bisa dianggap kejam, tapi bisa saja dianggap hal yang lumrah dan bahkan keharusan karena kondisi dan situasi yang mengharuskan demikian. Saya tidak mengetahui apakah saat ini, cara di atas masih tetap dijalankan di Tibet atau tidak. Untung aja di Indonesia tidak ada cara menguji bayi ala Tibet ini. Kalau ada, wah gawat...hehe. Don't try this at home ya..

Picture: mountainguides.com

25 komentar:

Erik said...

Baru lahir sudah diseleksi ya, dengan alam sebagai tolok ukurnya

@ Coy said...

Sadis juga....

Lyla said...

Untung saya gak lahir di Tibet tp di Tebet hahaha... apa hubungannya :D

newbi said...

eheheheh
extrim bgt bro
tp emang kalo dari awal sudah diddidik hal yg kuat maka akan bagus menghadapi hidup

Kuyus is cute said...

duch .. apa dosa si kecil ya? Tuhan memberi kuasa untuk membiarkan dia hidup dan berkesempatan hidup, mengapa manusia yang memutuskan soal hidup dan matinya seseorang ya?

yang tidak baik bagi manusia, belum tentu tidak baik oleh Penciptanya. Tapi yah .. namanya juga tradisi.

milanisti indonesia said...

semua tergantung kehendak yang kuasa..hidup ini hanya panggung sandiwara..

manusia biasa said...

wah......... ngeri juga. tapi sedikit share aja nich mirip cara orang kalteng untuk memilih bibit anjing yang baik untuk berburu dihutan nih. anak anjing yang sekian hari baru lahir dilempar ketengah sungai yang berhasil sampai tepian sungai adalha anjing yang dianggap mampu untuk ikut berburu.......

sheila said...

in old greece baby with problems are thrown off a cliff.....mothers abort or rejected down son or with problems for shame.....hitler woul have ariana race...no other word for their poorness

reni said...

Wah Bang.., cara mereka untuk menguji bayi-bayinya sungguh sangat ekstrim.
Yang aku tahu, dalam "Mata Ketiga" juga diceritakan ya tentang pendidikan yang 'sangat keras' yang diberikan kepada anak-2 sejak usia sangat dini ?!
Rupanya kerasnya alam yang membuat mereka menggembleng anak-2 agar bisa menjadi orang-2 yang tangguh dan dapat survive di alam yg sangat sulit disana.
Untung saja di Indonesia alamnya tidak sesulit di Tibet ya ?!

Dinoe said...

Ngeri juga ya bang..nice artikel bang

Dwi said...

waduh kasian deh anak kecil tak berdosa harus diuji kaya' gitu, mang ndak ada cara yang lebih baek.

dhemz said...

glad to be here..thanks for coming by on my page....:)

lina@happy family said...

Saya pernah lihat ini di tivi, tapi ngga tahu kejadian tahun berapa, jadi saya ngga tau apakah seleksi alam ini masih dilakukan di sana...Yang kuat yang bertahan hidup, mungkin itulah syarat utama untuk bisa bertahan hidup dengan kondisi alam ekstrim dingin seperti di sana...

HoneyBUZZin said...

Wah...agak keterlaluan saya rasa kalau sampai begitu sekali menguji bayi...
This is ridiculous..

Yudie said...

Tiap bangsa mempunyai adat dan kebiasaan masing-masing....
Mungkin itulah cara mereka mengetahui qualitas kesehatan bayi sejak dini, meskipun kedengarannya sadis...

Ceecile ~Priscilla Clara~ ^^ said...

wow! it's harsh, but I think they have their own reason, right??
btw, thanks for visiting my blog! ^^

ZATYA BAJA ITEM said...

hmm...bs kuat karna alam...bgus sob postingna..
kasian jg y tp..

zian said...

waw, ngeri euy kalau gitu mah

Cheexa said...

serem deee :(

BeeMouNTaiN said...

mampir bang!!! back to nature.. bener tuh!

BeeMouNTaiN said...

mampir bang!!! back to nature.. bener tuh!

Blogpreneur Sejati said...

bener dengan ketinggian dan suhu yang ekstim orang2 tibet adalah orang terkuat, gak ada orang yang lemah disana, bahkan seorang porter lebih kuat dari pada pendaki2 gunungnya hehehe,

warm regards,
Mencari Blogpreneur Sejati

IMCurtain said...

Wish you all, Happy Eid & Happy Holiday! Have a nice weekend!

Come and join our Social Blogger Community

anungcamui said...

kejam euy...

Anonymous said...

Ya, mungkin karena itu