22 April 2008

Mengharap Gereja di Arab Saudi

Belum bisa dibayangkan bagaimana reaksi warga Arab Saudi jika suatu hari Ahad nanti sekelompok orang mendatangi sebuah bangunan megah yang berkali-kali membunyikan lonceng.

Tapi arah menuju hari bersejarah itu sudah mulai terlihat. Sebab, dalam waktu dekat Arab Saudi akan menggelar konferensi international antaragama: Islam, Kristen dan Yahudi. Dari sana akan sangat mungkin muncul rekomendasi kemudahan pembangunan Gereja di negara tempat kelahiran Islam itu.

Harian Israel, Haaretz, edisi Kamis, 28 Maret lalu, menyebutkan bahwa langkah maju Raja Abdullah itu diperkirakan karena dia telah mengantongi izin ulama Arab Saudi yang menganut paham Walabi, sekte ortodoks mazhab Hambali.

Arab Saudi memang tengah menggeliat menangkap perubahan. Tekanan bertubi-tubi terkait dengan hak asasi beragama yang dilontarkan Amerika Serikat sejak invasi ke Irak telah melonggarkan pandangan penguasa Saudi. Menurut The Times 18 Maret lalu, Arab Saudi selama ini melarang Bibel dan Salib. Padahal, menurut harian itu, di Saudi terdapat sekitar sejuta orang Kristiani.

Sebelumnya, harapan ada Gereja di Saudi disampaikan Paus Benediktus VXI pada November tahun lalu, saat Raja Abdullah berkunjung ke Vatikan. Kunjungan ini menarik karena dua negara itu tak memiliki hubungan diplomatik. Abdullah saat itu menjelaskan soal Islam yang semula disalahtafsirkan Paus dalam kuliahnya yang kontroversial di Universitas Regensburg, Jerman, pada 2006. Abdullah memaparkan toleransi Islam dan penolakan Islam terhadap terorisme dan kekerasan.

Menurut laporan Richard Owen, wartawan The Times di Roma, Paus kemudian seolah minta bukti agar Saudi mengizinkan pembangunan Gereja sebagai lambang toleransi dan hubungan antaragama. Kunjungan Paus ke Masjid Biru di Istanbul dan "belajar" cara salat Islam tahun lalu mengisyaratkan kemesraan dua agama itu.

Beberapa negara Teluk seperti "berlomba" membangun gereja setelah Amerika Serikat menaklukkan Irak. Peresmian Gereja Katolik di Qatar awal Maret lalu dihadiri sekitar 15 ribu pemeluk Kristen di negara itu. Radio Vatikan mengomentari berdirinya sejumlah Gereja di negara Teluk sebagai perjalanan sejarah yang sangat monumental dalam 14 abad. Gereja Qatar dibangun dengan dana Emir Syekh Hamad bin Khalifa al-Thani. Kini sudah terdapat tujuh Gereja di Uni Emirat Arab, empat di Oman, dan tiga lagi di Kuwait.

Menurut Uskup Besar Mounged el-Hachem, kardinal untuk wilayah negara-negara Teluk, diplomasi Gereja Saudi dilakukan terus-menerus dan tinggal menunggu waktu. Bahkan Paul Hinder, kardinal yang menangani wilayah Arab, mengatakan keberadaan Gereja di Saudi justru akan menguntungkan negara itu sendiri karena para pekerja asing akan semakin terpuaskan secara spiritual. Menurut Hinder, situasi umat Katolik di Saudi seperti umat pada masa awal kelahirannya yang merindukan Gereja.

Keinginan umat Kristiani itu seolah mendapat dukungan pemimpin Libya, Muammar Qadhafi, yang berharap Mekah dan Madinah juga dibuka untuk nonmuslim. Alasan Qadhafi, tak ada larangan dalam Al-Quran dan hadis. "Siapa yang mengatakan nonmuslim tak boleh masuk Ka'bah? Bagaimana mungkin kaum muslim memonopoli Ka'bah? Setiap orang punya hak untuk datang dan mengelilingi Ka'bah, " katanya.

Memang ada perbedaan pandangan fikih dalam hal kebolehan nonmuslim masuk Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Bahkan, mazhab Hanafi, seperti dikutip Dr Wahban Azzuhaily dalam Atsarul Harbi fil Islam, membolehkan nonmuslim masuk Ka'bah sekalipun. Tapi, mengacu pada pendapat Imam Hambali yang dianut Saudi, nonmuslim dilarang masuk wilayah Hijaz, yang meliputi Mekah, Madinah, Taif, dan Jeddah, tanpa izin penguasa.

Namun Saudi sudah mengizinkan Jeddah dan Taif sebagai wilayah terbuka untuk nonmuslim. Karena itu, jika nanti Saudi mengizinkan, gereja hanya boleh dibangun di luar wilayah Hijaz, seperti Riyadh dan Dahran. Sebab, keberadaan gereja menandakan adanya penduduk tetap (mustaw-thin), yang dilarang di Hijaz oleh semua mazhab fikih.

Sebuah sejarah baru saling mengerti antarumat beragama sedang ditulis.

Oleh Musthafa Helmy di Majalah Tempo Edisi 21-27 April 2008 halaman 88

Artikel Terkait, Silahkan Dibaca:

0 komentar: